Rabu, 06 Mei 2015

PERTEMUAN TERINDAH
Oleh: Chilviana Ayu Siptiani Putri
Namaku Siva, Lebih tepatnya Asiva Maharani katanya sih aku anak kedua dari dua bersaudara, tapi sampai sekarang aku tidak pernah tau siapa kakakku dan siapa ibuku. Ayahku sengaja menutup rapat akan hal ini. Ayah dan ibuku berpisah semenjak aku berumur tiga bulan, jadi aku tidak bisa bertemu dengan ibuku. Bagaimana mau mencari, namanya saja aku tidak tahu, sedangkan dalam akta kelahiranku yang ada hanya nama ibu tiriku. Seujak kecil aku diasuh oleh ibu Ratmi dia itu pembantu dirumah, tapi dia tidak pernah aku anggap sebagai pembantu, melainkan aku anggap sebagai ibuku. Dirumah ini sebenarnya aku tinggal bersama dua orang kakak tiriku tapi anehnya mereka berdua mempunyai karakter yang jauh berbeda. Kakak ku yang pertama bernama Yohanda Maulana Saputra dan yang kedua bernama Firnanda Maulana Saputra, dan dari mereka berdua yang mau menganggap aku sebagai seorang adik adalah kak Firnanda, walaupun aku bukan adik kandungnya dia selalu memperlakukan aku sebagai adik.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, karena aku baru saja dipindah ayahku dari sekolah yang dulu ke sekolah kak Firnanda Dan kak Yohanda. Dan aku berharap semoga kak Yohanda bisa bersikap baik ke aku.
“Pagi adik kakak yang cantik?” sapa kak Firnanda
“Pagi juga kak.” Jawabku
“Heh Fir, gue nggak salah denger dia cantik? Buruk kali.” Ucap kak Yohanda
“Emang kenapa sih kak? Lagian yang nyapa aku itu kak Firnan bukan kakak. Jadi nggak usah nyari masalah.” Ucapku sewot
“Udah-udah, kak Yohan udah kenapa? Sampai kapan kakak kaya gini? Mau diapain juga Siva itu juga adik kita.” Ucap kak Firnanda
“Eh Fir ingat ya Dari dulu gua nggak pernah suka kalau kita punya ayah lagi!” ucap kak Yohan
“Oh jadi itu kakak jadi benci sama aku? Itu namanya kakak egois, lagian apa kakak fikir aku juga suka kalau aku punya mamah baru? Nggak sama sekali. Puas?” Ucapku kesal
“Terus kenapa Loe setuju mereka menikah?” tanya Kak Yohan
“Karena aku menghargai keputusan ayahku, apa kakak nggak pernah berfikir aku hidup dari kecil Cuma sama ayah dan gimana caranya aku nolak keinginan ayah? Kakak enak kakak bisa hidup bareng kak Firnan seenggaknya kakak masih punya tumpuan kalau kakak mau bangkang dari mamah kakak.” Ucapku histeris
“Udah jangan pada berantem!” ucap Kak Firnan
“Aku pergi duluan kak.” Ucapku
“Dek kamu nggak sarapan dulu?” Tanya kak Firnan
“Nggak kak, aku udah cukup kenyang pagi pagi udah bisa berantem sama kak Yohan.” Ucapku pergi
“Apa kakak udah puas? Dia itu nggak tahu apa apa kak.” Ucap Firnanda
“Hmm gue puas paling nggak dia bisa terus benci sama gue.” Ucap Yohanda
Aku pun meminta Pak Ardi untuk mengantarkanku ke sekolah, aku sengaja menyuruh pak Ardi untuk mengendarai mobil secara perlahan, karena aku ingin menikmati suasana pagi hari di kota ini, sungguh berbeda jauh dengan suasana kota yang dulu aku tinggali. Dari spion nampak mobil kak Firnan telah menyusul dan setelah aku lihat ternyata yang mengendarai mobilnya adalah kak Yohanda dan Kak Yohan pun melajukan mobilnya secara kencang sehingga mobil yang aku naiki tertinggal. Dan Akhirnya kami sampai ditempat parkir.
“Makasih ya pak udah nganter Siva sampai ke sekolah, nanti nggak usah dijemput biar siva bareng sama kita berdua.” Ucap kak yohanda pergi
“iya den sama sama itu udah tugas saya, kalau gitu saya pulang dulu.” Ucap pak Ardi
“iya pak.” Ucapku dan kak Firnan
“kak aku nggak salah dengerkan?” tanya ku ke kak Firnan
“mungkin kak Yohan mau nebus kesalahannya. Yaudah masuk yuk.” Ajak kak Firnan merangkulku
“iya kak.” Ucapku
“Ehm kak ngomong ngomong kelas ku yang mana?” tanyaku lagi
“Ini kakak mau nganterin kamu.” Ucapnya
“Pagi semua.” Sapa kak Firnan
“Pagi juga kak Firnan.” Balas mereka
“Owh ya kenalin ini adik kakak namanya Siva, menurut guru piket Siva bakalan sekelas sama kalian.” Jelas kak Firnan
“Hai semua kenalin aku siva, Salam kenal.” Ucapku
“Salam kenal juga” balas mereka
“Ya udah Siva kakak tinggal dulu ya, biasa aja kalau ada apa apa telfon kakak aja.” Ucap Kak Firnan
“Iya kak tenang aja.” Ucapku
“yaudah titip dia ya. Kakak duluan.” Ucap kak Firnan
“sip kak.” Ucap mereka
Akupun berjalan perlahan mencari bangku yang kosong dan sekalian menatap wajah teman teman baruku. Dan ternyata ada beberapa orang yang langsung akrab denganku.
“ Hai Siva, kenalin gue Ninda, Dan mereka berdua namanya Citra dan Rani.” Ucap Ninda
“Hai juga, kalian sahabatan?” Tanyaku
“iya kita bertiga itu satu TK, SD, SMP, dan SMA.” Ucap Citra
“keren banget.” Ucapku
“Owh iya Siva, kita Cuma mau ngasih tau, loe nggak usah kaget ya semua cewek disini itu pasti nge-genk dan kita mau nawarin lebih spesifiknya itu kita mau ngajak loe gabung ke genk kita, tenang aja kita itu nggak neko neko kok kalau nggak percaya tanya aja sama kak Firnan dan anak anak yang lainnya.” Ucap Ninda
“iya aku pikir pikir dulu ya nggak masalah kan? Soalnya dari dulu aku nggak pernah nge genk.” Ucapku
“sip dah nggak papa tapi seharusnya loe mau.” Ucap Rani
“iya.” Ucapku
“Ehm, tapi kalau seandainya nanti aku ikut kalian, kalian harus janji kalau apa yang kalian ucapin tadi sesuai dengan kenyataan.” Ucapku
“tenang aja Siva, kamu boleh pegang ucapan kita tadi.” Ucap Citra
Beberapa saat setelah mengikuti pelajaraan akhirnya bel istirahat telah berbunyi,akupun diajak ke kantin oleh Citra, Rani, Dan Ninda. Dan akupun mengikuti mereka.
“Siva ke kantin yuk.” Ajak Ninda
“oh iya, ayo aku traktir ya?” isengku
“seharusnya kamu lah yang traktir, kan kamu murid baru.” Ucap Citra
“emang ada undang undang nya?” tanyaku
“ada klik halaman dibawah ini.” Ucap Rani
“kamu pikir kuis apa? Yaudah aku tlaktir deh.” Ucapku
“asyik.” Ucap mereka bertiga
“kamu mau makan apa?” tanya Ninda setelah sampai di kantin
“ngikut aja deh.” Jawabku tanpa melihat Ninda
“Kamu lihat apa sih?” tanya Citra
“ehm, nggak aku nggak lihat apa-apa, aku Cuma pengen basket aja, soalnya udah lama aku nggak main basket.” Ucapku
“pas banget, ini kan lagi pembukaan member baru tim basket, gimana kalau kamu ikut?” saran Rani
“apa? Nggak ah ngapain pakek ikut tim basket, aku bisa latihan di rumah sendiri.” Ucapku
“ kamu takut ya sama kak Yohan?” tanya Citra
“takut? Takut kenapa? Aku nggak pernah buat salah sama dia.” Ucapku
“ya kalau nggak takut ikut aja kali. Biar sekali kali ada member basket yang cewek, dan kita harap orangnya itu ya kamu.” Ucap Rani
“Lagian ya senior kita yang ikut basket itu orang orangnya keren.” Ucap Citra
“iya apalagi kak Reihan, dia itu selalu bikin klepek-klepek hati aku.” Ucap alay Ninda
“Siapa kak Reihan?” tanyaku
“dia itu kapten basket, dia itu ganteng, tinggi terus putih, ramah, baik, keren. Pokoknya the best deh.” Ucap Ninda
“Alay kamu.” Ucapku sambil memakan makanan yang baru saja datang.
            Setelah selesai makan aku bersama mereka bertiga kembali ke kelas, tapi di tengah perjalanan aku didorong masuk oleh Ninda, Citra, dan Rani masuk keruangan seleksi penilihan anggota baru tim basket. Dan begitu terkejutnya aku, ketika aku berdiri tepat di depan kak Yohan.
“Mau ngapain kalian ke sini?” tanya kak Yohan
“Ini kak kita bertiga dateng ke sini mau ndaftarin Siva buat ikut audisi member tim basket periode ini.” Ucap Ninda menjelaskan
“Siva mau ikut basket? Bukannya kamu nggak di bolehin ikut basket sama ayah kamu?” tanya kak Yohan
“eh Yohan kelihatannya loe kenal banget sama dia?” tanya Toni salah satu member anggota tim basket
“ ya jelas gue kenal dia, dia itu adik gue. Maksud gue adik tiri yang nggak pernah gue harepin.” Ucap Kak Yohan
“maksud loe dia itu anak bokap tiri loe?” tanya Doni
“yoi.” Ucap kak Yohan
“Loe nggak boleh gitu dong Han, Dia itu adik loe mau di apain juga dia itu tetep adik loe. Lagi pula apa salahnya sih kalau dia mau ikut audisi ini? Nggak ada salahnya kan.” Ucap Kak Reihan
“eh Han, gue nggak mau ya punya generasi tim basket kaya dia.” Ucap Yohan
“emangnya kenapa?” tanyaku ke kak Yohan
“ ya loe nggak pantes buat jadi member di sini. Lagian gue nggak pernah lihat loe main basket.” Ucap kak Yohan
“Kak please dong, kasih kesempatan ke dia.” Ucap Citra
“Bukannya apa apa ya cantik, kakak itu nggak mau buang waktu kakak. Lain kali kalau kalian bertiga mau bawa member yang lain pasti kakak terima tapi jangan dia.” Ucap Yohan
“kakak tenang aja, waktu kakak nggak akan terbuang kok, aku juga nggak minat gabung ke tim ini, tim ini terlalu baik buat aku. Dan aku tau orang yang pantes masuk ke tim ini Cuma orang orang kaya kakak. Tapi satu hal yang kakak perlu tahu kakak itu bukan manusia tapi kakak itu iblis. Dan aku juga nggak pernah berharap punya saudara tiri kaya kakak.” Ucapku menanhan tangis dan berlalu pergi
“Siva tunggu.” Panggil Rani
“apa?” tanyaku
“Kita bertiga nggak bermaksud buat kamu kaya gitu.” Ucap rani menjelaskan
“iya nggak papa kok.” Ucapku berlalu pergi
“Kak Yohan Keterlaluan, dia itu adik kakak dan hari ini hari pertama dia sekolah. Dan seharusnya kakak itu bisa profesional.” Ucap nyolot Citra
“ Kak Reihan please dong kak kasih tau anggota kakak, bilang ke dia jaga sikap dong.” Ucap Ninda
“kalian berdua ngapain sih ini urusan kakak sama dia.” Ucap Yohan
“oh gitu. Yaudah kita permisi amit amit tempat ini  menjijikkan.” Ucap Citra segera berlalu
“ Gue nggak tau masalahnya Han, Cuma gue harap loe bisa jaga sikap loe, kasian adik loe.” Ucap Reihan
“Ah bodo, ini bukan urusan loe.” Jawab Yohan
            Setelah kejadian tadi aku langsung duduk di taman, entah apa yang aku lakukan, namun aku merasa lebih baik.
“Hai Siva?” sapa seseorang
“Iya kak.” Ucapku langsung menyeka air mataku
“kakak tau ucapan kakak kamu tadi emang udah kelewatan, tapi kamu nggak perlu masukin ke hati ucapannya tadi.” Ucap kak Reihan
“iya kak, makasih.” Ucapku
“Kakak juga mewakili tim basket buat minta maaf atas kejadian tadi.” Ucap kak Reihan
“iya kok kak nggak papa, lagi pula itu bukan kesalahan kalian. Mungkin ini emang kesalahan aku, aku nggak pernah mikir sebelum bertindak.” Ucapku
“Kakak juga mau ngasih ini ke kamu.” Ucap Kak Reihan menyerahkan selembar formulir
“Untuk apa kak?” tanyaku
“ Buat kamu kakak pengen kamu ikut audisi.” Ucap kak Reihan
“tapi kak, aku nggak bisa.” Ucapku
“kenapa? Kakak berani jamin Yohan nggak akan ganggu kamu.” Ucap kak Reihan meyakinkan
“Bukan itu kak, Aku emang udah nggak boleh main basket sama ayah.” Ucapku
“ kalau boleh tau kenapa?” tanya kak Reihan
“aku juga nggak tahu kak, semenjak ayah menikah sama mamahnya kan Yohan aku emang nggak di bolehin main basket.” Jelasku
“Tapi sebenernya kamu juga masih sering main basket kan?” tanya kak Reihan
“ Kok kakak bisa tahu?” ucapku
“ Kebiasaan manusia itu, sekali dilarang pasti tambah penasaran dan endingnya pasti nekad.” Ucap kak Reihan
“iya sih kak. O ya kak emang kakak nggak ke kelas?” tanyaku
“Nggak,  nanggung dek.” Ucap kak Reihan
“oh gitu, kak itu kalung kakak?” tanyaku
“oh ini, iya ini kalung kakak hadiah dari orang tua kakak. Kenapa?” Ucapnya
“Nggak Cuman Bagus aja kalungnya.” Ucapku
“o ya dek maaf ya kakak harus pergi duluan kakak ada janji, tapi kakak masih nunggu keputusan kamu dan kakak harap kamu ikut. “ ucap kak Reihan
“iya kak.” Ucapku
            Tanpa terasa aku duduk di taman hingga bel pulang selesai, dan pada saat itu juga aku tersadar bahwa tadi malam aku sudah berjanji akan menemui kak Firnan Di parkiran. Dan akupun segera pergi menuju ke Parkiran
“Lama banget sih loe?” ucap kak Yohan
“Udahlah kak, kakak nggak usah cari gara gara, kakak pikir aku nggak tau apa tentang apa yang kakak lakuin ke Siva.” Ucap kak Firnan
“Diem aja, cepetan gue keburu ada janji.” Ucap kak Yohan
“ayo masuk adik kakak yang cantik.” Ajak Kak Firnan
“makasih ya kak, untuk kesekian kalinya kakak jadi pahlawan aku.” Ucapku
“bisa aja kamu, ya udah ayo masuk, keburu di omelin pak sihirr.” Ucap kak Firnan
            Sesampainya dirumah ternyata mamah dan papah sudah pulang, dan anehnya setiap kali mereka pulang aku malah merasa sedih karena setiap kali mereka pulang aku merasa tidak ada yang pernah memikirkan ku, mereka menganggapku sebagai patung.
“ Siang anak mamah yang ganteng ganteng.” Ucap mamah memeluk kak Yohan Dan Kak Firnan
“Siang juga mah.” Ucap mereka berdua
“kalian cepet makan ya, mamah udah masak makanan kesukaan kalian.” Ucap mamah
“iya mah.” Ucap kak Yohan
“ayo dek kita makan” ajak kak Firnan
“Siva biar disini dulu papah mau ngobrol sama dia dulu.” Ucap papah
“oh gitu, yaudah, Siv kakak duluan ya.” Ucap kak Firnan
“iya kak.” Ucapku
“Siva, papah mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap papah
“ngomong apa pah?” tanyaku
“papah pengen mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggil mamah Nira dengan sebutan mamah bukan tante.” Ucap papah
“Kenapa sih pah masalah kaya gitu selalu papah permasalahin?” tanyaku
“dia itu mamah kamu dan sudah seharusnya kamu memanggil dia dengan sebutan mamah.” Ucap papah
“bahkan aku aja nggak bisa memanggil mamah kandungku dengan sebutan mamah, jadi apa masalahnya. Apa papah pikir aku itu masih anak kecil? Satu hal yang perlu papah tau aku akan manggil tante Nira dengan sebutan mamah kalau aku udah bisa manggil mamah kandungku dengan sebutan mamah.” Ucapku
“Apa kasih sayang mamah ke kamu kurang? Sampai sampai sulit buat kamu untuk memanggil aku dengan sebutan mamah?” tanyanya
“Dan kalaupun aku pengen manggil mamah, orang yang akan aku panggil mamah adalah Mbok Ratmi, karena dia yang dari  dulu yang ngurus aku.” Ucapku
“Jaga ucapan kamu.” Ucap papah dengan mendaratkan satu tamparan di pipiku
“Kalau akhirnya Cuma kaya gini mending mamah sama papah nggak pulang, mamah itu Cuma mau sekali aja denger kamu manggil mamah.” Ucap mamah
“Aku lebih memilih di tampar daripada aku harus memanggil tante dengan sebutan mamah.” Ucapku pergi
“Siva papah belum selesai bicara.” Ucap papah
“Siva pikir papah capek, jadi lebih baik papah istirahat aja. Karena kalau kita terus bicara papah akan tambah capek.” Ucapku
“Anak kamu itu emang nggak pernah bisa memahami posisi aku di keluarga ini.” Ucap Tante Nira
“ Dia memang begitu, dia akan selalu memegang teguh setiap ucapannya.” Balas papah
“persis dengan mamah nya, yang selalu konsisten dengan ucapannya.” Ucap tante Nira
            Tanpa terasa sorot matahari telah membangunkan ku kembali, bahkan aku lupa kalau aku tidur dari sore. Bahkan aku melewatkan makan malamku bersama mereka semua. Aku pun segera bangun dan segera mandi karena hari ini aku akan berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet. Dan setelah aku rapi aku segera bergegas ke kamar kak Firnan.
“pagi kakak.” Teriakku
“Kamu pikir kakak budek apa, pagi pagi udah bikin sensasi.” Ucapnya
“yeeeee, biarin suara suara aku, kenapa kakak yang sewot.” Ucapku
“Ok! Mulai hari ini berangkat bareng kak Yohan aja.” Ucap sinis kak Firnan
“enak aja, kalau kaya gitu berarti kakak mau bunuh aku, ayolah kak, lagian ini perjanjian awal kita ya. Janji ituu hutang dan hutang harus di bayar kalau nggak dibayar nanti di tagih di akhirat.” Ucapku crewet
“iya bawel, yaudah ayo sarapan dulu.” Ajak kak Firnan
“Nggak usah aja lah kak, keburu macet lagian aku udah bawa bekal kita makan di mobil aja, ayo kak cepet.” Ucapku
“Ya ya ya bawel.” Ucapk kak Firnan
            Didalam mobil aku lebih banyak bertanya mengenai kak Reihan ke kak Firnan. Karena memang aku akui begitu banyak pertanyaan yang kusimpan di pikiranku.
“Ini kak Rotinya.” Ucapku menyerahkan roti ke kak Firnan
“makasih ya.” Ucapnya
“kak aku mau tanya kakak kenal gak sama kak Reihan?” tanyaku
“kenal, kenapa?” tanya kakak balik
“Kakak tau apa aja tentang dia? Kasih tau dong kak!” ucapku
“nama lengkap Reihan itu Reihan Saputra Maharianto.” Ucap kakak
“Maharianto? Kok akhirannya sama kaya nama papah.” Ucapku
“Mungkin kebetulan dek.” Ucap kak Firnan
“tapi kakak pernah lihat nggak kalungnya kak Reihan?” tanyaku
“ya kakak lihat, kenapa?” tanya kak Firnan
“sama nggak kaya kalungku ini?” ucapku sambil menunjukkan kalungku
“dek.” Ucap kakak terkejut
“Kelihatannya kalung kamu sama kaya punya Reihan.” Ucap kak firnan
“apa kakak masih bisa bilang kalau ini kebetulan?” tanyaku kembali
“ apa kamu yakin kalau dia kakak kamu?” ucap kak Firnan
“aku juga nggak tau kak, tapi kemarin pas aku ditaman aku mikir ada yang aneh antara aku dan kak Reihan, tadinya aku nggak mikir sampai situ, tapi setelah aku tau nama lengkapnya tadi aku mulai berani ambil spesikulasi kalau bisa jadi dia itu kakakku.” Ucapku
“Begini aja dek, kita cari tau berdua tentang hal ini.” Ucap kak Firnan
“ tapi kalau papahtaau gimana?” tanyaku
“papah urusan kakak, kakak akan usahain supaya nggak ada yang tahu tentang itu.” Ucap kakak
“ o ya kak gimana sama formulir ini?” tanyaku lagi
“ kamu ikut aja, siapa tahu dengan ini kamu bisa lebih dalam nyari tahu dan masalah kak Yohan nggak usah dipikirin apapun yang dia omongin, nggak selalu sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.” Jelas kak Firnan
“iya kak makasih ya.” Ucapku
            Sesampainya di sekolah aku langsung keluar dari mobil kak Firnan dan segera meninggalkan kak Firnan, aku ingin segera menemui kak Reihan untuk menyerahkan Formulir ke kak Reihan. Dan beruntungnya kak Reihan ternyata sudah stay di tempat pendaftaran anggota baru tim basket.
“selamat pagi kak Reihan.” Sapaku
“Pagi juga dek, gimana tawaran kakak kemarin?” tanya kak Reihan
“aku pengen ikut kak, masalah ayahku nanti urusan belakangan, aku pengen buktiin ke ayah aku kalau basket membawa dampak positif ke aku, bukan dampak negatif. Makanya aku nekat ikut.” Jelasku
“Bener bener nekat kamu, tapi udah siap kan dengan segala resikonya?” tanya kak Reihan
“selalu siap kak, Hidupkan emang harus selalu ngambil resiko, kalau nggak berani ya nggak usah hidup.” Ucapku
“darimana kamu dapet kata kata itu.” Tanya kak Reihan
“Nggak tau kak dari pertama aku bisa baca, kata kata itu kayaknya kata kata yang selalu pengen aku ucapin disaat aku ditanya apa kamu siap mengambil resiko.” Ucapku
“Kita bisa kembar ya, kakak juga selalu jadiin kata kata itu sebagai important word.” Ucapnya
“Dan karena ini juga kak aku yakin kalau kakak itu emang kakak aku.” Ucapku dalam hati
“iya ya kak, o ya kak aku mau tanya kakak punya saudara?” tanyaku
“punya tapi kakak belum pernah ngliat dia karena dia sekarang sudah tidur nyenyak diaatas sana.” Ucapkak Reihan
“adik kakak udah meninggal?” tanyaku
“Kata bunda kakak begitu.” Jawabnya
“kalau ayah kakak?” tanyaku lagi
“Cuma kamu yang tahu dek, kakak nggak tau siapa ayah kakak yang sebenarnya yang kakak tahu beliau pasti seorang laki laki yang tampan dan baik.” Ucapnya
“apa kamu yakin Rei?” tanya kak Firnan
“yakin apa?” tanya kak Reihan
“Tadi gue denger loe bilang kalau adik loe udah meninggal?” tanya Kak Firnan
“Yakin nggak yakin, eh Siva kenapa kamu nangis dek? Kamu sakit?” tanya kak Reihan
“Dia sakit dari dulu Rei, semenjak dia pengen tahu jati dirinya yang sebenarnya.” Ucap Firnan
“Maksud loe apa sih Fir, gue nggak ngerti.” Ucap kak Reihan
“Gue pengen lihat kalung loe.” Ucap kak Firnan dan kak Reihan pun memperlihatkanya dan bertanya “ kenapa sama kalung gue.” Dan kak Firnan pun menyuruhku untuk memperlihatkan kalungku dan betapa terkejutnya kak Reihan ketika meliahat kalungku dan kalungnya bisa bersatu karena memang di dalam kalung itu ada magnetnya.
“Apa loe nggak ngrasa Rei kalau loe dan siva punya suatu hubungan.” Tanya kak Firnan
“aku saat ini yakin kak, tapi kalau memang akhirnya nggak terbukti aku juga nggak bisa untuk yakin.” Ucapku
“sekarang kamu ikut kakak kerumah kita selesaiin masalah ini, kalau memang kamu adik kakak,  bunda akan mengenali kamu, dan buat loe Firnan loe juga ikut kita.” Ucap kak Reihan
            Akupun pergi kerumah kak Reihan untuk mengklarifikasi tentang hal ini, di perjalanan aku hanya bisa menyeka air mataku, dan aku berdoa semoga ini bukan mimpi, semoga impianku dari dulu akan segera menjadi kenyataan. Dan begitu juga dengan kak Reihan dia hanya terdiam dan fokus dalam menyetir mobil mungkin dia juga berfikir tentang masalah ini. Dan beberapa saat kemudian kami sampai di rumah kak Reihan, rumah yang begitu megah, bahkan lebih megah daripada rumah papah.
“Ini rumah kakak?” tanyaku
“iya ini rumah kakak dan kalau memang semua ini benar ini rumah kamu bahkan rumah Firnan Dan Yohan.” Ucap Kak Reihan
“Bukannya ini....” ucapan kak Firnan terpotong
“Kalau rumah yang sering loe datengin itu rumah sewaa. Ya udah ayo masuk.” Ajak kak Reihan
“Aku takut kak Firnan, aku takut kalau semua ini hanya angan angan, gimana kalau apa yang kita pikirkan nggak akan terjadi.” Ucapku pelan ke kak Firnan
“Kita berdoa aja supaya semua ini memang kenyataan.” Ucap kak Firnan
“iya kak.” Jawabku
“tok tok tok” suara ketukan pintu
“iya sebentar.” Suara seorang perempuan yang aku yakini itu bunda kak Reihan
“Reihan, ini kan baru hari Rabu, tumben kamu pulang? Eh ada tamu yaudah ayo cepat masuk. Kebetulan mamah baru aja selesai masak.” Ucap Bunda Reihan
“iya mah, ayo masuk kita dibahas di dalam.” Ajak kak Reihan
“Makasih kak.” Ucapku
“ayo duduk mau minum apa?” tanya Bunda Reihan
“Nggak perlu tante,  kami tadi baru aja minum.” Ucap kak Firnan
“udah nggak papa nggak perlu sungkan anggap aja ini rumah kalian, sebentar tante ambilin.” Ucap Bunda Reihan
“kita mulai darimana?”tanya Firnan
“pasti Bunda akan tanya siapa kalian, dan gue minta loe duluan Nan yang perkenalan. Baru kamu Siva.” Jelas Kak Reihan
“Iya Han gue ngerti.” Ucap Firnan
“ini minumnya, maaf tante Cuma punya ini.” Ucap Bunda Reihan
“iya tante makasih.” Ucap kompakku dengan kak Firnan
“o ya nama kalian siapa?” tanya Bunda Reihan
“saya Firnanda Maulana Saputra tante.” Perkenalan Kak Firnan
“kalau kamu cantik, siapa nama kamu?” tanya Bunda Reihan
“Sa sa sa ya nama saya Asiva Maharani tante.” Ucapku
“Siapa? Asiva Maharani?” tanya Bunda Reihan
“iya nama dia Asiva Maharani, apa Bunda inget sesuatu tentang nama itu?” ucap Kak Reihan
“ Begini tante saya adalah kakaknya Siva, tapi kakak tirinya dan ayah kami bernama Maharianto, dan saya yakin tante kenal dengan beliau karena saya yakin tante adalah mantan istri papah.” Ucap kak Firnan
“Siva bunda rindu kamu nak.” Ucap Bunda memelukku erat
“Siva juga rindu sama bunda.” Ucapku membalas pelukkannya
“Bunda kenapa bohong sama Reihan kata bunda adik Reihan udah meninggal?” tanya kak Reihan
“Bunda terpaksa bohong karena bunda takut kamu akan selalu penasaran dengan adik kamu.” Ucap Bunda
“Bunda........” ucapku
“iya sayang.” Ucap Bunda
“Sini Reihan bunda juga mau peluk kalian berdua.” Ucap bunda
“Bun Kak Firnan itu kan kakak ku juga.” Ucapku
“iya sini nak Bundanya Siva juga bunda kamu.” Ucap bunda memmeluk kami bertiga
“Kak Firnan Kak Reihan aku seneng banget.” Ucap ku
“iya sekarang bunda punya 3 orang anak, seneng rasanya. Dan buat Firnan Panggil Bunda ya ke Bunda.” Ucap Bunda
“Iya Bun dengan senang hati.” Ucap kak Firnan
“Bun, bunda itu nggak Cuma punya 3 orang anak, tapi 4 orang anak.” Ucap kak Reihan
“iya bun Firnan masih punya satu orang kakak namanya Yohanda Maulana Saputra.” Ucap kak Firnan
“owh kok nggak ikut kesini?” tanya Bunda
“Maaf bun, sebenarnya kak Yohan itu baik orangnya cuman dia salah tafsirmengenai pernikahan mamah dengan papah, kak Yohan paling gak suka kalau mamah menikah lagi, makanya dia selalu melampiaskan kekesalannya dengan bersikap dingin atau kasar ke Siva, tapi demi apapun itu bukan sifat asli dari kak Yohan.” Ucap kak Firnan
“Mamah kalian gimana?” tanya bunda
“Tante Nira itu....” ucapku terpotong
“Mamah nggak pernah berubah bun, dia tetap jadi mamah yang egois yang hanya memikirkan kehidupannya sendiri, bahkan dia nggak pernah menganggap Syiva sebagai anaknya. Jadi Firnan juga mau minta maaf atas nama mamah ke bunda atas sikapnya dari dulu.” Jelas kak Firnan
“Udahlah Fir kita udah sama sama tahu loe sama Yohan itu adik gue dan gue nggak mau ada rasa bersalah atau apalah di keluarga kita.” Ucap kak Reihan
“Kak Firnan nggak perlu begitu lagi aku udah nganggep hal itu biasa kok, cuman bukan berarti aku juga akan bersikap manis dengan tante Nira.” Ucapku
“Syiva.” Ucap kompak Bunda dan kak Reihan
“nggak papa kok bun, udah biasa. Ini hidup bun hal seperti itu wajar.” Ucap Firnan
“Jadi Kamu nggak nglarang dia?” tanya Bunda
“Maaf bun, Cuma ini yang bisa Firnan lakuin, kalau Firnan melarang Siva akan tersiksa terus.” Ucap Kak Firnan
“Untung ada kamu Fir, jadi Siva ada yang jagain.” Ucap kak Reihan
“udah kewajiban gue, dia kan adik gue juga.” Ucap kak Firnan
“Bun bunda kenapa dulu ninggalin ninggalin aku dan memilih merawat kak Reihan?” tanyaku
“Bukan seperti itu sayang, tapi papah kamu yang bawa kamu pergi dari bunda.” Ucap bunda
“Kenapa bunda nggak nyari aku?” tanyaku lagi
“Aku yakin bunda udah nyari tapi papah nggak akan biarin hal itu terjadi, karena jelas papah takut hak asuh Siva diambil sama bunda.” Ucap kak Firnan
“Iya kamu benar Firnan, itulah yang terjadi di antara kami.” Ucap Bunda
“yaudah mellow mellowannya udah aja, kata bunda tadi bunda masak, mending kita makan.” Ucap kak Reihan
“Iya bun Firnan juga udah laper gara gara Siva ngajak berangkat pagi Firnan Cuma makan roti sedikit banget.” Protes kak Firnan
“Iya nih bun Reihan juga laper gara gara nganterin Siva kesini.” Ucap kak Reihan
“kenapa pada nyalahin aku? Pada ikhlas nggak? Bunda tuh mereka nakal.” Ucapku manja ke bunda
“huuu manja.” Ucap kompak kak Reihan dan kak Firnan
“udah udah sekarang kita makan aja. Daripada kalian semua pada salah salahan mending isi perut kalian dulu.” Ajak Bunda
“Wah ini mah enak banget bun, Firnan nggak pernah ngerasain makanan seenak ini.” Ucap Kak Firnan
“Bun aku boleh tinggal disini ya?” tanyaku
“kalau bunda sih boleh boleh aja.” Ucap bunda
“tapi menurut kakak jangan deh, untuk sementara ini kamu tetep tinggal di rumah papah aja. Soalnya kondisi rumah kita lagi nggak memungkinkan, atau nggak gini aja dari pagi sampai sore kamu disini nah pas sore kamu pulang. Gimana Rei kalau menurut loe?” tanya kak Firnan
“ya lebih baik gitu dek sama aja kok.” Ucap kak Reihan
“ya udah nggak papa.” Ucapku sedikit kecewa
“Bun Firnan, sama Siva kayaknya harus pulang udah siang juga.” Pamit kak Firnan
“iya bun Reihan juga mau pulang besok kesinilagi.” Susul kak Reihan
“yah ngapain saih kak buru buru disini dulu kenapa? Masih pengen disini.” Omelku
“Siva kamu nggak boleh gitu kamu harus pulang rumah ini selalu terbuka buat kalian, kalau masih kangen buat nanti telpon bunda aja.” Ucap Bunda
“iya Bun kalau gitu aku sama kakak pulang dulu ya.” Pamit ku
“iya kalian hati hati jangan ngebut ngebut.” Ingat bunda
“Ok.” Ucap kami bertiga
            Aku bersama kak Firnan diantar pulang oleh kak Reihan dan akupun segera masuk kerumah untuk menemui ayah untuk membicarakan masalah ini.
“kamu yakin dek mau ngomongin masalah ini ke papah?” tanya kak Firnan
“yakin kak, udah saat nya masalah ini harus selesai. Aku pengen denger langsung papah jawab pertanyaan aku mengenai jati diri aku, dan sebelumnya aku juga mau minta maaf sama kakak kalau sampai nanti aku songong sama tante Nira.” Jelasku
“kakak nggak pernah mempersalahkan itu, tapi jangan sampai kelewatan sejahat jahatnya mamah kakak, dia juga mamah kamu walaupun dia juga nggak pernah ngurus kamu. Yaudah ayo masuk.” Ucap kak Firnan
“jam segini tumben udah pulang kalian, kak Yohan mana?” tanya Tante Nira
“kita berdua bolos mah.” Ucap kak Firnan
“apa bolos? Kenapa kalian bolos?” tanya mamah
“maaf mah.” Ucap kak Firnan pergi
“ini pasti karena kamu kan Siva?” tanya Tante Nira
“Iya ini karena aku, kan setiap masalah itu gara gara aku.” Ucapku pergi
“apa maksud kamu, jadi kamu keberatan kalau mamah salahin kamu?” ucap Tante
“sama sekali nggak, tapi aku sedikit heran maksud tante nikah sama papah sebenarnya apa sih?” tanyaku
“Karena mamah dari dulu suka sama papah kamu, tapi mamah nggak suka sama kamu.” Ucapnya
“karena tante takut ada harta yang jatuh ke tangan aku?” tanyaku
“Itu kamu tau, asal kamu tau ya Siva, harta dirumah ini ini hanya pantas diberikan ke Yohan dan Firnan, bukan untuk kamu.” Jelasnya
“Mamah keterlaluan ya, Yohan nggak suka sama sifat mamah yang kaya gini, Cuma harta Yohan nggak begitu terobsesi. Dan ini mah alasan Yohan nggak suka lihat mamah nikah lagi karena Yohan Benci kalau hal ini yang mamah incar.” Ucap kak Yohan pergi
“ini semua karena kamu Siva.” Ucap mamah
“semuanya emang salah aku.” Ucapku
“udahlah Siv cepat masuk kekamar.” Suruh kak Firnan
“iya kak.” Ucapku menurut.
Setelah kejadian itu aku menjalani hari hari seperti biasa, namun ada beberapa perubahan yang terjadi dihidupku, seperti aku bisa bermain bersama dengan Kakak kandungku dan ibu kandungku. Untuk Rani, Ninda dan Citra mereka kelihatannya menghindar dariku, namun aku pun tidak mempersalahkan itu untukku jika memang mereka sudah ditakdirkan untuk berteman denganku maka itu semua hanya tergantung pada waktu. Untuk kak Yohan beberapa Hari ini memang sangat dingin bukan hanya kepadaku melainkan kepada semua.
Aku sendiri merasa aneh aku ingin mengatakan kalau aku sangat senang namun aku juga ingin mengatakan bahwa aku kehilangan beberapa sosok yang telah terbiasa bersamaku. Dan ada sesuatu yang aku pikirkan kenapa ketika aku menemukan keluargaku aku juga kehilangan yang lain, tapi aku akan berusaha untuk terbiasa dengan keadaan ini, bahkan aku akan berusaha untuk mengembalikan situasi menjadi situasi semula. Bahkan aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya agar aku bisa mengatakan bahwa aku sangat senang dengan keadaanku saat ini.
Hari ini adalah hari kepulangan papah dari Kalimantan, dan entah ada apa saat aku bangun dari tidurku di ruang keluarga mereka semua berkumpul sempat aku menganggap semua ini mimpi tapi ini semua bukan mimpi, mereka benar benar ada di sini.
“Sini Siva.” Suruh papah
“Kamu pasti bingung Siva dengan keadaan saat ini yang terjadi, mamah sengaja menyuruh bunda kamu, kakak kamu, papah kamu, dan anak anak mamah untuk berkumpul disini, mamah tahu kalau kamu sudah bertemu dengan bunda kamu. Maka dari itu mamah sengaja mengumpulkan kalian disini.” Ucap Tante Nira
“apa maksud tante dengan semua ini? Tante mau ngusir aku? Atau apa?” tanyaku
“Siva dengerin dulu apa yang mau disampaikan sama mamah kamu, jangan kamu langsung mengambil spesikulasi seperti itu.” Ucap Bunda
“Kamu duduk aja Siv.” Suruh Kak Yohan
“papah kamu udah tahu semua tentang maksud mamah yang mau menikah dengan papah kamu, dan mamah sadar untuk apa mamah terlalu berharap untuk mendapatkan kehidupan yang layak untuk anak-anak mamah, sedangkan mereka malah menolaknya.” Ucap tante Nira yang benar benar membuatku bingung
“Apa sih aku nggak ngerti? Apa coba inti permasalahannya?” tanyaku kebingungan
“mamah kamu mau minta cerai dari papah.” Ucap papah
“apa? Cerai? Kenapa?” tanyaku lagi
“Mamah pikir ini yang terbaik, mamah udah nggak punya keberanian untuk tinggal disini, mamah tahu mamah adalah seorang pecundang. Dan benar apa kata kamu mamah bukanlah mamah yang baik untuk kamu, karena mamah nggak pernah ngurus kamu. Setelah kejadian itu mamah merenungi semua kelakuan mamah terhadap kamu.” Ucap mamah
“Keluarga ini tetap harus bertahan, aku udah nggak mempermasalahkan ini, aku udah terbiasa bahkan aku akan sangat kecewa dengan mamah kalau mamah tetap mau bercerai dengan papah. Aku udah seneng mah dan tolong jangan buat aku kecewa lagi.” Pintaku sambil berlutut di hadapan mamah
“Aku tahu mah aku udah buat mamah selalu kesel tapi aku nggak pernah mau lihat ada perpisahan lagi dikeluarga ini, tolong biarin keluarga ini tetap utuh, aku nggak peduli masalah harta buat aku selama kita bisa bareng harta itu nggak akan terlalu jadi batu karang untuk kita. Jadi aku mohon untuk urungin keinginan mamah.” Pintaku
“Iya Nir, alangkah lebih baiknya kamu tetap pertahankan posisi kamu, kita bisa jadi ibu buat mereka berempat Yohan Firnan, Reihan dan Siva. Kita juga bisa sharing bareng.” Ucap bunda
“iya mah, maaf kalau Reihan ikut campur tapi Reihan minta izinin Reihan untuk panggil mamah. Reihan seneng punya dua orang ibu.” Ucap Kak Reihan
“Iya mah Yohan juga masih mau memperbaiki kelakuan Yohan ke Siva, kalau mamah nglakuin ini semua karena ucapan Yohan waktu itu mamah lupain aja. Yohan nggak berniat untuk ngomong itu.” Ucap kak Reihan juga memeluk mamah
“Papah juga berharap agar mamh urungkan niat itu.” Ucap papah
“Iya untuk kalian semua mamah minta maaf, sekali lagi mamah minta maf dan terimakasih kalian sudah memberikan kesempata ini ke mamah.” Ucap mamah
“gini dong dari dulu kan lebih enak.” Suara kak Firnan yang selalu aku ingat sampai sekarang
Sekarang semua itu adalah memory yang sangat indah sekarang aku bisa hidup bersama mereka semua yang selalu ada untukku. Dan aku sangan bahagi orang-orang yang dulu selalu membuatku kesal saat ini mereka selalu membuat hidup ku terasa berkesan dan aku sangat bahagia.  Aku akan katakan pada dunia bahwa jika awal hidup kita pahit pasti akhirnya manis tapi kalau awalnya manis jangan sampai akhirnya pahit.
Terima kasih untuk kalian semua aku beruntung punya kalian, kalian bagaikan pelangi dihidupku yang selalumemberikan warna untuk hidupku.  Thank’s God.
~SELESAI~




Tidak ada komentar:

Posting Komentar