Rabu, 06 Mei 2015

PERTEMUAN TERINDAH
Oleh: Chilviana Ayu Siptiani Putri
Namaku Siva, Lebih tepatnya Asiva Maharani katanya sih aku anak kedua dari dua bersaudara, tapi sampai sekarang aku tidak pernah tau siapa kakakku dan siapa ibuku. Ayahku sengaja menutup rapat akan hal ini. Ayah dan ibuku berpisah semenjak aku berumur tiga bulan, jadi aku tidak bisa bertemu dengan ibuku. Bagaimana mau mencari, namanya saja aku tidak tahu, sedangkan dalam akta kelahiranku yang ada hanya nama ibu tiriku. Seujak kecil aku diasuh oleh ibu Ratmi dia itu pembantu dirumah, tapi dia tidak pernah aku anggap sebagai pembantu, melainkan aku anggap sebagai ibuku. Dirumah ini sebenarnya aku tinggal bersama dua orang kakak tiriku tapi anehnya mereka berdua mempunyai karakter yang jauh berbeda. Kakak ku yang pertama bernama Yohanda Maulana Saputra dan yang kedua bernama Firnanda Maulana Saputra, dan dari mereka berdua yang mau menganggap aku sebagai seorang adik adalah kak Firnanda, walaupun aku bukan adik kandungnya dia selalu memperlakukan aku sebagai adik.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, karena aku baru saja dipindah ayahku dari sekolah yang dulu ke sekolah kak Firnanda Dan kak Yohanda. Dan aku berharap semoga kak Yohanda bisa bersikap baik ke aku.
“Pagi adik kakak yang cantik?” sapa kak Firnanda
“Pagi juga kak.” Jawabku
“Heh Fir, gue nggak salah denger dia cantik? Buruk kali.” Ucap kak Yohanda
“Emang kenapa sih kak? Lagian yang nyapa aku itu kak Firnan bukan kakak. Jadi nggak usah nyari masalah.” Ucapku sewot
“Udah-udah, kak Yohan udah kenapa? Sampai kapan kakak kaya gini? Mau diapain juga Siva itu juga adik kita.” Ucap kak Firnanda
“Eh Fir ingat ya Dari dulu gua nggak pernah suka kalau kita punya ayah lagi!” ucap kak Yohan
“Oh jadi itu kakak jadi benci sama aku? Itu namanya kakak egois, lagian apa kakak fikir aku juga suka kalau aku punya mamah baru? Nggak sama sekali. Puas?” Ucapku kesal
“Terus kenapa Loe setuju mereka menikah?” tanya Kak Yohan
“Karena aku menghargai keputusan ayahku, apa kakak nggak pernah berfikir aku hidup dari kecil Cuma sama ayah dan gimana caranya aku nolak keinginan ayah? Kakak enak kakak bisa hidup bareng kak Firnan seenggaknya kakak masih punya tumpuan kalau kakak mau bangkang dari mamah kakak.” Ucapku histeris
“Udah jangan pada berantem!” ucap Kak Firnan
“Aku pergi duluan kak.” Ucapku
“Dek kamu nggak sarapan dulu?” Tanya kak Firnan
“Nggak kak, aku udah cukup kenyang pagi pagi udah bisa berantem sama kak Yohan.” Ucapku pergi
“Apa kakak udah puas? Dia itu nggak tahu apa apa kak.” Ucap Firnanda
“Hmm gue puas paling nggak dia bisa terus benci sama gue.” Ucap Yohanda
Aku pun meminta Pak Ardi untuk mengantarkanku ke sekolah, aku sengaja menyuruh pak Ardi untuk mengendarai mobil secara perlahan, karena aku ingin menikmati suasana pagi hari di kota ini, sungguh berbeda jauh dengan suasana kota yang dulu aku tinggali. Dari spion nampak mobil kak Firnan telah menyusul dan setelah aku lihat ternyata yang mengendarai mobilnya adalah kak Yohanda dan Kak Yohan pun melajukan mobilnya secara kencang sehingga mobil yang aku naiki tertinggal. Dan Akhirnya kami sampai ditempat parkir.
“Makasih ya pak udah nganter Siva sampai ke sekolah, nanti nggak usah dijemput biar siva bareng sama kita berdua.” Ucap kak yohanda pergi
“iya den sama sama itu udah tugas saya, kalau gitu saya pulang dulu.” Ucap pak Ardi
“iya pak.” Ucapku dan kak Firnan
“kak aku nggak salah dengerkan?” tanya ku ke kak Firnan
“mungkin kak Yohan mau nebus kesalahannya. Yaudah masuk yuk.” Ajak kak Firnan merangkulku
“iya kak.” Ucapku
“Ehm kak ngomong ngomong kelas ku yang mana?” tanyaku lagi
“Ini kakak mau nganterin kamu.” Ucapnya
“Pagi semua.” Sapa kak Firnan
“Pagi juga kak Firnan.” Balas mereka
“Owh ya kenalin ini adik kakak namanya Siva, menurut guru piket Siva bakalan sekelas sama kalian.” Jelas kak Firnan
“Hai semua kenalin aku siva, Salam kenal.” Ucapku
“Salam kenal juga” balas mereka
“Ya udah Siva kakak tinggal dulu ya, biasa aja kalau ada apa apa telfon kakak aja.” Ucap Kak Firnan
“Iya kak tenang aja.” Ucapku
“yaudah titip dia ya. Kakak duluan.” Ucap kak Firnan
“sip kak.” Ucap mereka
Akupun berjalan perlahan mencari bangku yang kosong dan sekalian menatap wajah teman teman baruku. Dan ternyata ada beberapa orang yang langsung akrab denganku.
“ Hai Siva, kenalin gue Ninda, Dan mereka berdua namanya Citra dan Rani.” Ucap Ninda
“Hai juga, kalian sahabatan?” Tanyaku
“iya kita bertiga itu satu TK, SD, SMP, dan SMA.” Ucap Citra
“keren banget.” Ucapku
“Owh iya Siva, kita Cuma mau ngasih tau, loe nggak usah kaget ya semua cewek disini itu pasti nge-genk dan kita mau nawarin lebih spesifiknya itu kita mau ngajak loe gabung ke genk kita, tenang aja kita itu nggak neko neko kok kalau nggak percaya tanya aja sama kak Firnan dan anak anak yang lainnya.” Ucap Ninda
“iya aku pikir pikir dulu ya nggak masalah kan? Soalnya dari dulu aku nggak pernah nge genk.” Ucapku
“sip dah nggak papa tapi seharusnya loe mau.” Ucap Rani
“iya.” Ucapku
“Ehm, tapi kalau seandainya nanti aku ikut kalian, kalian harus janji kalau apa yang kalian ucapin tadi sesuai dengan kenyataan.” Ucapku
“tenang aja Siva, kamu boleh pegang ucapan kita tadi.” Ucap Citra
Beberapa saat setelah mengikuti pelajaraan akhirnya bel istirahat telah berbunyi,akupun diajak ke kantin oleh Citra, Rani, Dan Ninda. Dan akupun mengikuti mereka.
“Siva ke kantin yuk.” Ajak Ninda
“oh iya, ayo aku traktir ya?” isengku
“seharusnya kamu lah yang traktir, kan kamu murid baru.” Ucap Citra
“emang ada undang undang nya?” tanyaku
“ada klik halaman dibawah ini.” Ucap Rani
“kamu pikir kuis apa? Yaudah aku tlaktir deh.” Ucapku
“asyik.” Ucap mereka bertiga
“kamu mau makan apa?” tanya Ninda setelah sampai di kantin
“ngikut aja deh.” Jawabku tanpa melihat Ninda
“Kamu lihat apa sih?” tanya Citra
“ehm, nggak aku nggak lihat apa-apa, aku Cuma pengen basket aja, soalnya udah lama aku nggak main basket.” Ucapku
“pas banget, ini kan lagi pembukaan member baru tim basket, gimana kalau kamu ikut?” saran Rani
“apa? Nggak ah ngapain pakek ikut tim basket, aku bisa latihan di rumah sendiri.” Ucapku
“ kamu takut ya sama kak Yohan?” tanya Citra
“takut? Takut kenapa? Aku nggak pernah buat salah sama dia.” Ucapku
“ya kalau nggak takut ikut aja kali. Biar sekali kali ada member basket yang cewek, dan kita harap orangnya itu ya kamu.” Ucap Rani
“Lagian ya senior kita yang ikut basket itu orang orangnya keren.” Ucap Citra
“iya apalagi kak Reihan, dia itu selalu bikin klepek-klepek hati aku.” Ucap alay Ninda
“Siapa kak Reihan?” tanyaku
“dia itu kapten basket, dia itu ganteng, tinggi terus putih, ramah, baik, keren. Pokoknya the best deh.” Ucap Ninda
“Alay kamu.” Ucapku sambil memakan makanan yang baru saja datang.
            Setelah selesai makan aku bersama mereka bertiga kembali ke kelas, tapi di tengah perjalanan aku didorong masuk oleh Ninda, Citra, dan Rani masuk keruangan seleksi penilihan anggota baru tim basket. Dan begitu terkejutnya aku, ketika aku berdiri tepat di depan kak Yohan.
“Mau ngapain kalian ke sini?” tanya kak Yohan
“Ini kak kita bertiga dateng ke sini mau ndaftarin Siva buat ikut audisi member tim basket periode ini.” Ucap Ninda menjelaskan
“Siva mau ikut basket? Bukannya kamu nggak di bolehin ikut basket sama ayah kamu?” tanya kak Yohan
“eh Yohan kelihatannya loe kenal banget sama dia?” tanya Toni salah satu member anggota tim basket
“ ya jelas gue kenal dia, dia itu adik gue. Maksud gue adik tiri yang nggak pernah gue harepin.” Ucap Kak Yohan
“maksud loe dia itu anak bokap tiri loe?” tanya Doni
“yoi.” Ucap kak Yohan
“Loe nggak boleh gitu dong Han, Dia itu adik loe mau di apain juga dia itu tetep adik loe. Lagi pula apa salahnya sih kalau dia mau ikut audisi ini? Nggak ada salahnya kan.” Ucap Kak Reihan
“eh Han, gue nggak mau ya punya generasi tim basket kaya dia.” Ucap Yohan
“emangnya kenapa?” tanyaku ke kak Yohan
“ ya loe nggak pantes buat jadi member di sini. Lagian gue nggak pernah lihat loe main basket.” Ucap kak Yohan
“Kak please dong, kasih kesempatan ke dia.” Ucap Citra
“Bukannya apa apa ya cantik, kakak itu nggak mau buang waktu kakak. Lain kali kalau kalian bertiga mau bawa member yang lain pasti kakak terima tapi jangan dia.” Ucap Yohan
“kakak tenang aja, waktu kakak nggak akan terbuang kok, aku juga nggak minat gabung ke tim ini, tim ini terlalu baik buat aku. Dan aku tau orang yang pantes masuk ke tim ini Cuma orang orang kaya kakak. Tapi satu hal yang kakak perlu tahu kakak itu bukan manusia tapi kakak itu iblis. Dan aku juga nggak pernah berharap punya saudara tiri kaya kakak.” Ucapku menanhan tangis dan berlalu pergi
“Siva tunggu.” Panggil Rani
“apa?” tanyaku
“Kita bertiga nggak bermaksud buat kamu kaya gitu.” Ucap rani menjelaskan
“iya nggak papa kok.” Ucapku berlalu pergi
“Kak Yohan Keterlaluan, dia itu adik kakak dan hari ini hari pertama dia sekolah. Dan seharusnya kakak itu bisa profesional.” Ucap nyolot Citra
“ Kak Reihan please dong kak kasih tau anggota kakak, bilang ke dia jaga sikap dong.” Ucap Ninda
“kalian berdua ngapain sih ini urusan kakak sama dia.” Ucap Yohan
“oh gitu. Yaudah kita permisi amit amit tempat ini  menjijikkan.” Ucap Citra segera berlalu
“ Gue nggak tau masalahnya Han, Cuma gue harap loe bisa jaga sikap loe, kasian adik loe.” Ucap Reihan
“Ah bodo, ini bukan urusan loe.” Jawab Yohan
            Setelah kejadian tadi aku langsung duduk di taman, entah apa yang aku lakukan, namun aku merasa lebih baik.
“Hai Siva?” sapa seseorang
“Iya kak.” Ucapku langsung menyeka air mataku
“kakak tau ucapan kakak kamu tadi emang udah kelewatan, tapi kamu nggak perlu masukin ke hati ucapannya tadi.” Ucap kak Reihan
“iya kak, makasih.” Ucapku
“Kakak juga mewakili tim basket buat minta maaf atas kejadian tadi.” Ucap kak Reihan
“iya kok kak nggak papa, lagi pula itu bukan kesalahan kalian. Mungkin ini emang kesalahan aku, aku nggak pernah mikir sebelum bertindak.” Ucapku
“Kakak juga mau ngasih ini ke kamu.” Ucap Kak Reihan menyerahkan selembar formulir
“Untuk apa kak?” tanyaku
“ Buat kamu kakak pengen kamu ikut audisi.” Ucap kak Reihan
“tapi kak, aku nggak bisa.” Ucapku
“kenapa? Kakak berani jamin Yohan nggak akan ganggu kamu.” Ucap kak Reihan meyakinkan
“Bukan itu kak, Aku emang udah nggak boleh main basket sama ayah.” Ucapku
“ kalau boleh tau kenapa?” tanya kak Reihan
“aku juga nggak tahu kak, semenjak ayah menikah sama mamahnya kan Yohan aku emang nggak di bolehin main basket.” Jelasku
“Tapi sebenernya kamu juga masih sering main basket kan?” tanya kak Reihan
“ Kok kakak bisa tahu?” ucapku
“ Kebiasaan manusia itu, sekali dilarang pasti tambah penasaran dan endingnya pasti nekad.” Ucap kak Reihan
“iya sih kak. O ya kak emang kakak nggak ke kelas?” tanyaku
“Nggak,  nanggung dek.” Ucap kak Reihan
“oh gitu, kak itu kalung kakak?” tanyaku
“oh ini, iya ini kalung kakak hadiah dari orang tua kakak. Kenapa?” Ucapnya
“Nggak Cuman Bagus aja kalungnya.” Ucapku
“o ya dek maaf ya kakak harus pergi duluan kakak ada janji, tapi kakak masih nunggu keputusan kamu dan kakak harap kamu ikut. “ ucap kak Reihan
“iya kak.” Ucapku
            Tanpa terasa aku duduk di taman hingga bel pulang selesai, dan pada saat itu juga aku tersadar bahwa tadi malam aku sudah berjanji akan menemui kak Firnan Di parkiran. Dan akupun segera pergi menuju ke Parkiran
“Lama banget sih loe?” ucap kak Yohan
“Udahlah kak, kakak nggak usah cari gara gara, kakak pikir aku nggak tau apa tentang apa yang kakak lakuin ke Siva.” Ucap kak Firnan
“Diem aja, cepetan gue keburu ada janji.” Ucap kak Yohan
“ayo masuk adik kakak yang cantik.” Ajak Kak Firnan
“makasih ya kak, untuk kesekian kalinya kakak jadi pahlawan aku.” Ucapku
“bisa aja kamu, ya udah ayo masuk, keburu di omelin pak sihirr.” Ucap kak Firnan
            Sesampainya dirumah ternyata mamah dan papah sudah pulang, dan anehnya setiap kali mereka pulang aku malah merasa sedih karena setiap kali mereka pulang aku merasa tidak ada yang pernah memikirkan ku, mereka menganggapku sebagai patung.
“ Siang anak mamah yang ganteng ganteng.” Ucap mamah memeluk kak Yohan Dan Kak Firnan
“Siang juga mah.” Ucap mereka berdua
“kalian cepet makan ya, mamah udah masak makanan kesukaan kalian.” Ucap mamah
“iya mah.” Ucap kak Yohan
“ayo dek kita makan” ajak kak Firnan
“Siva biar disini dulu papah mau ngobrol sama dia dulu.” Ucap papah
“oh gitu, yaudah, Siv kakak duluan ya.” Ucap kak Firnan
“iya kak.” Ucapku
“Siva, papah mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap papah
“ngomong apa pah?” tanyaku
“papah pengen mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggil mamah Nira dengan sebutan mamah bukan tante.” Ucap papah
“Kenapa sih pah masalah kaya gitu selalu papah permasalahin?” tanyaku
“dia itu mamah kamu dan sudah seharusnya kamu memanggil dia dengan sebutan mamah.” Ucap papah
“bahkan aku aja nggak bisa memanggil mamah kandungku dengan sebutan mamah, jadi apa masalahnya. Apa papah pikir aku itu masih anak kecil? Satu hal yang perlu papah tau aku akan manggil tante Nira dengan sebutan mamah kalau aku udah bisa manggil mamah kandungku dengan sebutan mamah.” Ucapku
“Apa kasih sayang mamah ke kamu kurang? Sampai sampai sulit buat kamu untuk memanggil aku dengan sebutan mamah?” tanyanya
“Dan kalaupun aku pengen manggil mamah, orang yang akan aku panggil mamah adalah Mbok Ratmi, karena dia yang dari  dulu yang ngurus aku.” Ucapku
“Jaga ucapan kamu.” Ucap papah dengan mendaratkan satu tamparan di pipiku
“Kalau akhirnya Cuma kaya gini mending mamah sama papah nggak pulang, mamah itu Cuma mau sekali aja denger kamu manggil mamah.” Ucap mamah
“Aku lebih memilih di tampar daripada aku harus memanggil tante dengan sebutan mamah.” Ucapku pergi
“Siva papah belum selesai bicara.” Ucap papah
“Siva pikir papah capek, jadi lebih baik papah istirahat aja. Karena kalau kita terus bicara papah akan tambah capek.” Ucapku
“Anak kamu itu emang nggak pernah bisa memahami posisi aku di keluarga ini.” Ucap Tante Nira
“ Dia memang begitu, dia akan selalu memegang teguh setiap ucapannya.” Balas papah
“persis dengan mamah nya, yang selalu konsisten dengan ucapannya.” Ucap tante Nira
            Tanpa terasa sorot matahari telah membangunkan ku kembali, bahkan aku lupa kalau aku tidur dari sore. Bahkan aku melewatkan makan malamku bersama mereka semua. Aku pun segera bangun dan segera mandi karena hari ini aku akan berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet. Dan setelah aku rapi aku segera bergegas ke kamar kak Firnan.
“pagi kakak.” Teriakku
“Kamu pikir kakak budek apa, pagi pagi udah bikin sensasi.” Ucapnya
“yeeeee, biarin suara suara aku, kenapa kakak yang sewot.” Ucapku
“Ok! Mulai hari ini berangkat bareng kak Yohan aja.” Ucap sinis kak Firnan
“enak aja, kalau kaya gitu berarti kakak mau bunuh aku, ayolah kak, lagian ini perjanjian awal kita ya. Janji ituu hutang dan hutang harus di bayar kalau nggak dibayar nanti di tagih di akhirat.” Ucapku crewet
“iya bawel, yaudah ayo sarapan dulu.” Ajak kak Firnan
“Nggak usah aja lah kak, keburu macet lagian aku udah bawa bekal kita makan di mobil aja, ayo kak cepet.” Ucapku
“Ya ya ya bawel.” Ucapk kak Firnan
            Didalam mobil aku lebih banyak bertanya mengenai kak Reihan ke kak Firnan. Karena memang aku akui begitu banyak pertanyaan yang kusimpan di pikiranku.
“Ini kak Rotinya.” Ucapku menyerahkan roti ke kak Firnan
“makasih ya.” Ucapnya
“kak aku mau tanya kakak kenal gak sama kak Reihan?” tanyaku
“kenal, kenapa?” tanya kakak balik
“Kakak tau apa aja tentang dia? Kasih tau dong kak!” ucapku
“nama lengkap Reihan itu Reihan Saputra Maharianto.” Ucap kakak
“Maharianto? Kok akhirannya sama kaya nama papah.” Ucapku
“Mungkin kebetulan dek.” Ucap kak Firnan
“tapi kakak pernah lihat nggak kalungnya kak Reihan?” tanyaku
“ya kakak lihat, kenapa?” tanya kak Firnan
“sama nggak kaya kalungku ini?” ucapku sambil menunjukkan kalungku
“dek.” Ucap kakak terkejut
“Kelihatannya kalung kamu sama kaya punya Reihan.” Ucap kak firnan
“apa kakak masih bisa bilang kalau ini kebetulan?” tanyaku kembali
“ apa kamu yakin kalau dia kakak kamu?” ucap kak Firnan
“aku juga nggak tau kak, tapi kemarin pas aku ditaman aku mikir ada yang aneh antara aku dan kak Reihan, tadinya aku nggak mikir sampai situ, tapi setelah aku tau nama lengkapnya tadi aku mulai berani ambil spesikulasi kalau bisa jadi dia itu kakakku.” Ucapku
“Begini aja dek, kita cari tau berdua tentang hal ini.” Ucap kak Firnan
“ tapi kalau papahtaau gimana?” tanyaku
“papah urusan kakak, kakak akan usahain supaya nggak ada yang tahu tentang itu.” Ucap kakak
“ o ya kak gimana sama formulir ini?” tanyaku lagi
“ kamu ikut aja, siapa tahu dengan ini kamu bisa lebih dalam nyari tahu dan masalah kak Yohan nggak usah dipikirin apapun yang dia omongin, nggak selalu sama dengan apa yang ada di dalam hatinya.” Jelas kak Firnan
“iya kak makasih ya.” Ucapku
            Sesampainya di sekolah aku langsung keluar dari mobil kak Firnan dan segera meninggalkan kak Firnan, aku ingin segera menemui kak Reihan untuk menyerahkan Formulir ke kak Reihan. Dan beruntungnya kak Reihan ternyata sudah stay di tempat pendaftaran anggota baru tim basket.
“selamat pagi kak Reihan.” Sapaku
“Pagi juga dek, gimana tawaran kakak kemarin?” tanya kak Reihan
“aku pengen ikut kak, masalah ayahku nanti urusan belakangan, aku pengen buktiin ke ayah aku kalau basket membawa dampak positif ke aku, bukan dampak negatif. Makanya aku nekat ikut.” Jelasku
“Bener bener nekat kamu, tapi udah siap kan dengan segala resikonya?” tanya kak Reihan
“selalu siap kak, Hidupkan emang harus selalu ngambil resiko, kalau nggak berani ya nggak usah hidup.” Ucapku
“darimana kamu dapet kata kata itu.” Tanya kak Reihan
“Nggak tau kak dari pertama aku bisa baca, kata kata itu kayaknya kata kata yang selalu pengen aku ucapin disaat aku ditanya apa kamu siap mengambil resiko.” Ucapku
“Kita bisa kembar ya, kakak juga selalu jadiin kata kata itu sebagai important word.” Ucapnya
“Dan karena ini juga kak aku yakin kalau kakak itu emang kakak aku.” Ucapku dalam hati
“iya ya kak, o ya kak aku mau tanya kakak punya saudara?” tanyaku
“punya tapi kakak belum pernah ngliat dia karena dia sekarang sudah tidur nyenyak diaatas sana.” Ucapkak Reihan
“adik kakak udah meninggal?” tanyaku
“Kata bunda kakak begitu.” Jawabnya
“kalau ayah kakak?” tanyaku lagi
“Cuma kamu yang tahu dek, kakak nggak tau siapa ayah kakak yang sebenarnya yang kakak tahu beliau pasti seorang laki laki yang tampan dan baik.” Ucapnya
“apa kamu yakin Rei?” tanya kak Firnan
“yakin apa?” tanya kak Reihan
“Tadi gue denger loe bilang kalau adik loe udah meninggal?” tanya Kak Firnan
“Yakin nggak yakin, eh Siva kenapa kamu nangis dek? Kamu sakit?” tanya kak Reihan
“Dia sakit dari dulu Rei, semenjak dia pengen tahu jati dirinya yang sebenarnya.” Ucap Firnan
“Maksud loe apa sih Fir, gue nggak ngerti.” Ucap kak Reihan
“Gue pengen lihat kalung loe.” Ucap kak Firnan dan kak Reihan pun memperlihatkanya dan bertanya “ kenapa sama kalung gue.” Dan kak Firnan pun menyuruhku untuk memperlihatkan kalungku dan betapa terkejutnya kak Reihan ketika meliahat kalungku dan kalungnya bisa bersatu karena memang di dalam kalung itu ada magnetnya.
“Apa loe nggak ngrasa Rei kalau loe dan siva punya suatu hubungan.” Tanya kak Firnan
“aku saat ini yakin kak, tapi kalau memang akhirnya nggak terbukti aku juga nggak bisa untuk yakin.” Ucapku
“sekarang kamu ikut kakak kerumah kita selesaiin masalah ini, kalau memang kamu adik kakak,  bunda akan mengenali kamu, dan buat loe Firnan loe juga ikut kita.” Ucap kak Reihan
            Akupun pergi kerumah kak Reihan untuk mengklarifikasi tentang hal ini, di perjalanan aku hanya bisa menyeka air mataku, dan aku berdoa semoga ini bukan mimpi, semoga impianku dari dulu akan segera menjadi kenyataan. Dan begitu juga dengan kak Reihan dia hanya terdiam dan fokus dalam menyetir mobil mungkin dia juga berfikir tentang masalah ini. Dan beberapa saat kemudian kami sampai di rumah kak Reihan, rumah yang begitu megah, bahkan lebih megah daripada rumah papah.
“Ini rumah kakak?” tanyaku
“iya ini rumah kakak dan kalau memang semua ini benar ini rumah kamu bahkan rumah Firnan Dan Yohan.” Ucap Kak Reihan
“Bukannya ini....” ucapan kak Firnan terpotong
“Kalau rumah yang sering loe datengin itu rumah sewaa. Ya udah ayo masuk.” Ajak kak Reihan
“Aku takut kak Firnan, aku takut kalau semua ini hanya angan angan, gimana kalau apa yang kita pikirkan nggak akan terjadi.” Ucapku pelan ke kak Firnan
“Kita berdoa aja supaya semua ini memang kenyataan.” Ucap kak Firnan
“iya kak.” Jawabku
“tok tok tok” suara ketukan pintu
“iya sebentar.” Suara seorang perempuan yang aku yakini itu bunda kak Reihan
“Reihan, ini kan baru hari Rabu, tumben kamu pulang? Eh ada tamu yaudah ayo cepat masuk. Kebetulan mamah baru aja selesai masak.” Ucap Bunda Reihan
“iya mah, ayo masuk kita dibahas di dalam.” Ajak kak Reihan
“Makasih kak.” Ucapku
“ayo duduk mau minum apa?” tanya Bunda Reihan
“Nggak perlu tante,  kami tadi baru aja minum.” Ucap kak Firnan
“udah nggak papa nggak perlu sungkan anggap aja ini rumah kalian, sebentar tante ambilin.” Ucap Bunda Reihan
“kita mulai darimana?”tanya Firnan
“pasti Bunda akan tanya siapa kalian, dan gue minta loe duluan Nan yang perkenalan. Baru kamu Siva.” Jelas Kak Reihan
“Iya Han gue ngerti.” Ucap Firnan
“ini minumnya, maaf tante Cuma punya ini.” Ucap Bunda Reihan
“iya tante makasih.” Ucap kompakku dengan kak Firnan
“o ya nama kalian siapa?” tanya Bunda Reihan
“saya Firnanda Maulana Saputra tante.” Perkenalan Kak Firnan
“kalau kamu cantik, siapa nama kamu?” tanya Bunda Reihan
“Sa sa sa ya nama saya Asiva Maharani tante.” Ucapku
“Siapa? Asiva Maharani?” tanya Bunda Reihan
“iya nama dia Asiva Maharani, apa Bunda inget sesuatu tentang nama itu?” ucap Kak Reihan
“ Begini tante saya adalah kakaknya Siva, tapi kakak tirinya dan ayah kami bernama Maharianto, dan saya yakin tante kenal dengan beliau karena saya yakin tante adalah mantan istri papah.” Ucap kak Firnan
“Siva bunda rindu kamu nak.” Ucap Bunda memelukku erat
“Siva juga rindu sama bunda.” Ucapku membalas pelukkannya
“Bunda kenapa bohong sama Reihan kata bunda adik Reihan udah meninggal?” tanya kak Reihan
“Bunda terpaksa bohong karena bunda takut kamu akan selalu penasaran dengan adik kamu.” Ucap Bunda
“Bunda........” ucapku
“iya sayang.” Ucap Bunda
“Sini Reihan bunda juga mau peluk kalian berdua.” Ucap bunda
“Bun Kak Firnan itu kan kakak ku juga.” Ucapku
“iya sini nak Bundanya Siva juga bunda kamu.” Ucap bunda memmeluk kami bertiga
“Kak Firnan Kak Reihan aku seneng banget.” Ucap ku
“iya sekarang bunda punya 3 orang anak, seneng rasanya. Dan buat Firnan Panggil Bunda ya ke Bunda.” Ucap Bunda
“Iya Bun dengan senang hati.” Ucap kak Firnan
“Bun, bunda itu nggak Cuma punya 3 orang anak, tapi 4 orang anak.” Ucap kak Reihan
“iya bun Firnan masih punya satu orang kakak namanya Yohanda Maulana Saputra.” Ucap kak Firnan
“owh kok nggak ikut kesini?” tanya Bunda
“Maaf bun, sebenarnya kak Yohan itu baik orangnya cuman dia salah tafsirmengenai pernikahan mamah dengan papah, kak Yohan paling gak suka kalau mamah menikah lagi, makanya dia selalu melampiaskan kekesalannya dengan bersikap dingin atau kasar ke Siva, tapi demi apapun itu bukan sifat asli dari kak Yohan.” Ucap kak Firnan
“Mamah kalian gimana?” tanya bunda
“Tante Nira itu....” ucapku terpotong
“Mamah nggak pernah berubah bun, dia tetap jadi mamah yang egois yang hanya memikirkan kehidupannya sendiri, bahkan dia nggak pernah menganggap Syiva sebagai anaknya. Jadi Firnan juga mau minta maaf atas nama mamah ke bunda atas sikapnya dari dulu.” Jelas kak Firnan
“Udahlah Fir kita udah sama sama tahu loe sama Yohan itu adik gue dan gue nggak mau ada rasa bersalah atau apalah di keluarga kita.” Ucap kak Reihan
“Kak Firnan nggak perlu begitu lagi aku udah nganggep hal itu biasa kok, cuman bukan berarti aku juga akan bersikap manis dengan tante Nira.” Ucapku
“Syiva.” Ucap kompak Bunda dan kak Reihan
“nggak papa kok bun, udah biasa. Ini hidup bun hal seperti itu wajar.” Ucap Firnan
“Jadi Kamu nggak nglarang dia?” tanya Bunda
“Maaf bun, Cuma ini yang bisa Firnan lakuin, kalau Firnan melarang Siva akan tersiksa terus.” Ucap Kak Firnan
“Untung ada kamu Fir, jadi Siva ada yang jagain.” Ucap kak Reihan
“udah kewajiban gue, dia kan adik gue juga.” Ucap kak Firnan
“Bun bunda kenapa dulu ninggalin ninggalin aku dan memilih merawat kak Reihan?” tanyaku
“Bukan seperti itu sayang, tapi papah kamu yang bawa kamu pergi dari bunda.” Ucap bunda
“Kenapa bunda nggak nyari aku?” tanyaku lagi
“Aku yakin bunda udah nyari tapi papah nggak akan biarin hal itu terjadi, karena jelas papah takut hak asuh Siva diambil sama bunda.” Ucap kak Firnan
“Iya kamu benar Firnan, itulah yang terjadi di antara kami.” Ucap Bunda
“yaudah mellow mellowannya udah aja, kata bunda tadi bunda masak, mending kita makan.” Ucap kak Reihan
“Iya bun Firnan juga udah laper gara gara Siva ngajak berangkat pagi Firnan Cuma makan roti sedikit banget.” Protes kak Firnan
“Iya nih bun Reihan juga laper gara gara nganterin Siva kesini.” Ucap kak Reihan
“kenapa pada nyalahin aku? Pada ikhlas nggak? Bunda tuh mereka nakal.” Ucapku manja ke bunda
“huuu manja.” Ucap kompak kak Reihan dan kak Firnan
“udah udah sekarang kita makan aja. Daripada kalian semua pada salah salahan mending isi perut kalian dulu.” Ajak Bunda
“Wah ini mah enak banget bun, Firnan nggak pernah ngerasain makanan seenak ini.” Ucap Kak Firnan
“Bun aku boleh tinggal disini ya?” tanyaku
“kalau bunda sih boleh boleh aja.” Ucap bunda
“tapi menurut kakak jangan deh, untuk sementara ini kamu tetep tinggal di rumah papah aja. Soalnya kondisi rumah kita lagi nggak memungkinkan, atau nggak gini aja dari pagi sampai sore kamu disini nah pas sore kamu pulang. Gimana Rei kalau menurut loe?” tanya kak Firnan
“ya lebih baik gitu dek sama aja kok.” Ucap kak Reihan
“ya udah nggak papa.” Ucapku sedikit kecewa
“Bun Firnan, sama Siva kayaknya harus pulang udah siang juga.” Pamit kak Firnan
“iya bun Reihan juga mau pulang besok kesinilagi.” Susul kak Reihan
“yah ngapain saih kak buru buru disini dulu kenapa? Masih pengen disini.” Omelku
“Siva kamu nggak boleh gitu kamu harus pulang rumah ini selalu terbuka buat kalian, kalau masih kangen buat nanti telpon bunda aja.” Ucap Bunda
“iya Bun kalau gitu aku sama kakak pulang dulu ya.” Pamit ku
“iya kalian hati hati jangan ngebut ngebut.” Ingat bunda
“Ok.” Ucap kami bertiga
            Aku bersama kak Firnan diantar pulang oleh kak Reihan dan akupun segera masuk kerumah untuk menemui ayah untuk membicarakan masalah ini.
“kamu yakin dek mau ngomongin masalah ini ke papah?” tanya kak Firnan
“yakin kak, udah saat nya masalah ini harus selesai. Aku pengen denger langsung papah jawab pertanyaan aku mengenai jati diri aku, dan sebelumnya aku juga mau minta maaf sama kakak kalau sampai nanti aku songong sama tante Nira.” Jelasku
“kakak nggak pernah mempersalahkan itu, tapi jangan sampai kelewatan sejahat jahatnya mamah kakak, dia juga mamah kamu walaupun dia juga nggak pernah ngurus kamu. Yaudah ayo masuk.” Ucap kak Firnan
“jam segini tumben udah pulang kalian, kak Yohan mana?” tanya Tante Nira
“kita berdua bolos mah.” Ucap kak Firnan
“apa bolos? Kenapa kalian bolos?” tanya mamah
“maaf mah.” Ucap kak Firnan pergi
“ini pasti karena kamu kan Siva?” tanya Tante Nira
“Iya ini karena aku, kan setiap masalah itu gara gara aku.” Ucapku pergi
“apa maksud kamu, jadi kamu keberatan kalau mamah salahin kamu?” ucap Tante
“sama sekali nggak, tapi aku sedikit heran maksud tante nikah sama papah sebenarnya apa sih?” tanyaku
“Karena mamah dari dulu suka sama papah kamu, tapi mamah nggak suka sama kamu.” Ucapnya
“karena tante takut ada harta yang jatuh ke tangan aku?” tanyaku
“Itu kamu tau, asal kamu tau ya Siva, harta dirumah ini ini hanya pantas diberikan ke Yohan dan Firnan, bukan untuk kamu.” Jelasnya
“Mamah keterlaluan ya, Yohan nggak suka sama sifat mamah yang kaya gini, Cuma harta Yohan nggak begitu terobsesi. Dan ini mah alasan Yohan nggak suka lihat mamah nikah lagi karena Yohan Benci kalau hal ini yang mamah incar.” Ucap kak Yohan pergi
“ini semua karena kamu Siva.” Ucap mamah
“semuanya emang salah aku.” Ucapku
“udahlah Siv cepat masuk kekamar.” Suruh kak Firnan
“iya kak.” Ucapku menurut.
Setelah kejadian itu aku menjalani hari hari seperti biasa, namun ada beberapa perubahan yang terjadi dihidupku, seperti aku bisa bermain bersama dengan Kakak kandungku dan ibu kandungku. Untuk Rani, Ninda dan Citra mereka kelihatannya menghindar dariku, namun aku pun tidak mempersalahkan itu untukku jika memang mereka sudah ditakdirkan untuk berteman denganku maka itu semua hanya tergantung pada waktu. Untuk kak Yohan beberapa Hari ini memang sangat dingin bukan hanya kepadaku melainkan kepada semua.
Aku sendiri merasa aneh aku ingin mengatakan kalau aku sangat senang namun aku juga ingin mengatakan bahwa aku kehilangan beberapa sosok yang telah terbiasa bersamaku. Dan ada sesuatu yang aku pikirkan kenapa ketika aku menemukan keluargaku aku juga kehilangan yang lain, tapi aku akan berusaha untuk terbiasa dengan keadaan ini, bahkan aku akan berusaha untuk mengembalikan situasi menjadi situasi semula. Bahkan aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya agar aku bisa mengatakan bahwa aku sangat senang dengan keadaanku saat ini.
Hari ini adalah hari kepulangan papah dari Kalimantan, dan entah ada apa saat aku bangun dari tidurku di ruang keluarga mereka semua berkumpul sempat aku menganggap semua ini mimpi tapi ini semua bukan mimpi, mereka benar benar ada di sini.
“Sini Siva.” Suruh papah
“Kamu pasti bingung Siva dengan keadaan saat ini yang terjadi, mamah sengaja menyuruh bunda kamu, kakak kamu, papah kamu, dan anak anak mamah untuk berkumpul disini, mamah tahu kalau kamu sudah bertemu dengan bunda kamu. Maka dari itu mamah sengaja mengumpulkan kalian disini.” Ucap Tante Nira
“apa maksud tante dengan semua ini? Tante mau ngusir aku? Atau apa?” tanyaku
“Siva dengerin dulu apa yang mau disampaikan sama mamah kamu, jangan kamu langsung mengambil spesikulasi seperti itu.” Ucap Bunda
“Kamu duduk aja Siv.” Suruh Kak Yohan
“papah kamu udah tahu semua tentang maksud mamah yang mau menikah dengan papah kamu, dan mamah sadar untuk apa mamah terlalu berharap untuk mendapatkan kehidupan yang layak untuk anak-anak mamah, sedangkan mereka malah menolaknya.” Ucap tante Nira yang benar benar membuatku bingung
“Apa sih aku nggak ngerti? Apa coba inti permasalahannya?” tanyaku kebingungan
“mamah kamu mau minta cerai dari papah.” Ucap papah
“apa? Cerai? Kenapa?” tanyaku lagi
“Mamah pikir ini yang terbaik, mamah udah nggak punya keberanian untuk tinggal disini, mamah tahu mamah adalah seorang pecundang. Dan benar apa kata kamu mamah bukanlah mamah yang baik untuk kamu, karena mamah nggak pernah ngurus kamu. Setelah kejadian itu mamah merenungi semua kelakuan mamah terhadap kamu.” Ucap mamah
“Keluarga ini tetap harus bertahan, aku udah nggak mempermasalahkan ini, aku udah terbiasa bahkan aku akan sangat kecewa dengan mamah kalau mamah tetap mau bercerai dengan papah. Aku udah seneng mah dan tolong jangan buat aku kecewa lagi.” Pintaku sambil berlutut di hadapan mamah
“Aku tahu mah aku udah buat mamah selalu kesel tapi aku nggak pernah mau lihat ada perpisahan lagi dikeluarga ini, tolong biarin keluarga ini tetap utuh, aku nggak peduli masalah harta buat aku selama kita bisa bareng harta itu nggak akan terlalu jadi batu karang untuk kita. Jadi aku mohon untuk urungin keinginan mamah.” Pintaku
“Iya Nir, alangkah lebih baiknya kamu tetap pertahankan posisi kamu, kita bisa jadi ibu buat mereka berempat Yohan Firnan, Reihan dan Siva. Kita juga bisa sharing bareng.” Ucap bunda
“iya mah, maaf kalau Reihan ikut campur tapi Reihan minta izinin Reihan untuk panggil mamah. Reihan seneng punya dua orang ibu.” Ucap Kak Reihan
“Iya mah Yohan juga masih mau memperbaiki kelakuan Yohan ke Siva, kalau mamah nglakuin ini semua karena ucapan Yohan waktu itu mamah lupain aja. Yohan nggak berniat untuk ngomong itu.” Ucap kak Reihan juga memeluk mamah
“Papah juga berharap agar mamh urungkan niat itu.” Ucap papah
“Iya untuk kalian semua mamah minta maaf, sekali lagi mamah minta maf dan terimakasih kalian sudah memberikan kesempata ini ke mamah.” Ucap mamah
“gini dong dari dulu kan lebih enak.” Suara kak Firnan yang selalu aku ingat sampai sekarang
Sekarang semua itu adalah memory yang sangat indah sekarang aku bisa hidup bersama mereka semua yang selalu ada untukku. Dan aku sangan bahagi orang-orang yang dulu selalu membuatku kesal saat ini mereka selalu membuat hidup ku terasa berkesan dan aku sangat bahagia.  Aku akan katakan pada dunia bahwa jika awal hidup kita pahit pasti akhirnya manis tapi kalau awalnya manis jangan sampai akhirnya pahit.
Terima kasih untuk kalian semua aku beruntung punya kalian, kalian bagaikan pelangi dihidupku yang selalumemberikan warna untuk hidupku.  Thank’s God.
~SELESAI~




Hidup Tak Berujung
Oleh: Chilviana Ayu Siptiani Putri
Terkadang seseorang membutuhkan sesuatu hiburan untuk menghibur kejenuhan di hidupnya. Akan tetapi manusia sering kali dibuat bingung untuk memilih hiburan. Tuhan memang tidak pernah tidur maka sudah selayaknya kita bersyukur, karena-NYA setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan kapanpun kita senantiasa dijaga oleh-NYA.
Pada kodratnya manusia diciptakan lebih sempurna dari makhluk yang lainnya. Tujuannya Mungkin Tuhan lebih ingin melihat hamba-hambanya mampu menjalankan kegiatan kegiatan yang lebih dari yang lain. Tuhan lebih ingin melihat manusia mampu melakukan sesuatu hal karena kesempurnaan yang dimilikinya.
Namun, setiap kelebihan yang dimiliki manusia, manusia juga menyimpan begitu banyak kekurangan dan terkadang juga manusia lebih memperhatikan kekurangannya ketimbang kelebihannya.
Berbicara tentang kekurangan , kita diingatkan betapa besarnya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Banyak manusia yang kurang beruntung, maka sudah sepatutnya juga kita kembali mengucapkan terima kasih dengan yang diatas. Kemudian seseorang yang diberikan kekurangan dari yang diatas, ternyata mereka juga mempunyai berlipat kelebihan , bahkan kelebihan yang dimiliki orang yang kekurangan belum tentu  juga kita yang bisa dikatakan sempurna juga bisa melakukannya.
Dengarlah kawan, jika kita mampu mengartikan arti hidup yang sebenarnya maka kalian diperbolehkan untuk sedikit berbangga, kita bangga karena belum tentu apa yang kita miliki orang lain juga memilikinya.
Contoh kecil kita yang memiliki orang tua lengkap , yang walaupun setiap harinya memarahi kita, mereka yang selalu benar, mereka yang selalu menganggapp kita selaluu salah walaupun sebenarnya terkadang kita memang benar dan mereka yang selalu tidak ingin disalahkan.
Dari uraian ini terkadang kita sempat berpikir begitu bawelnya mereka, begitu egoisnya mereka, begitu garangnya mereka. Aku bosan diseperti inikan, aku benci karena aku yang selaluu disalahkan dan lainnya. Padahal tujuan awal mereka hanyalah ingin memberikan yang terbaik untuk kita, tetapi memang begitu caranya ada beberapa diantara orang tua yang mendidik anaknya dengan halus, ada pula yang dengan keras dalam artian keras didikannya bukan artian kekerasan fisik walaupun terkadang kekerasan juga turut ambil bagian didalamnya.
Contoh ini untuk kita yang masih mempunyai orang tua lengkap, lalu untuk mereka-mereka yang kurang beruntung bagaimana? Itulah cara berpikir mereka yang kurang beruntung. Mereka patut kita beri dua jempol, karena apa? Karena kebanyakan dari mereka mampu menghargai sedikit apapun kesempatan. Mereka lebih mandiri dari pada kita. Padahal mereka tidak dibimbing langsung oleh orang tuanya.
“Ayah, ibu aku rindu padamu, aku ingin bersama kalian, aku ingin dipeluk kalian, aku ingin diantar sekolah, aku ingin makan bersama kalian. Walaupun hanya di alam mimpi”. Itu jika mereka sempat melihat dan mengenali orang tuanya, lalu bagaimana “maaf” yang tidak sempat melihat orang tuanya? Dan jawabannya kebanyakan dari mereka sering mengkhayal “ mungkin ayahku seperti om itu, baik orangnya, ganteng dan mungkin ibu juga seperti tante itu cantik dan ramah. Andai saja mereka mau menemaniku begitu bahagianya aku.” Maka dari itu banyak manusia yang membutuhkan hiburan.
Aku, kalian diciptakan dengan begitu lengkap, kita diciptakan tanpa cacat sedikit pun. Akan tetapi disini aku ingin sedikit berbagi cerita mengenai hidupku. Kondisi fisik ku memang tak ada cacat sedikitpun, namun satu hal aku merasa cacat perhatian. Sejak kecil aku telah ditinggal pergi oleh orang tuaku. Itupun kata orang orang bahkan akupun tak pernah mengenali dan melihat orang tuaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak anak yang bisa dibilang kurang perhatian, kurang perhatian dari orang tua, lingkungan dan lainnya.
Namaku adalah Cindy Pramesti umurku saat ini menginjak 14 tahun. Aku tinggal bersama orang-orang pemungut sampah atau barang bekas. Lebih tepatnya “pemulung” aku tinggal di lingkungan ini sejak kecil dan aku di besarkan oleh mereka semua.
setiap hari aku membantu memungut barang bekas dari tempat sampah. Seperti hari ini aku berencana ke kompleks sebelah, dengar dengar kemarin salah satu warga di sana ada yang mempunyai hajatan, jadi kemungkinan besar banyak botol-boto, kertas yangg bisa dijual.
“Ika, Ika”. Panggilku
“iya sebentar aku ngambil keranjang dulu”. Jawabnya
“Cindy!” panggil seseorang
“Alfi kamu kok belum berangkat  sekolah? Inikan sudah siang. Apa nanti kamu nggak telat?” tanyaku kepada Alfi
“Aku hari ini nggak berangkat, cin!” ucap Alfi sembari duduk dibangku reok milik Ika
“loh kenapa kamu nggak berangkat? Nanti kamu di marahin orang tuamu loh!” ucapku
“uang bulananku sudah nunggak dua bulan cin, tadi aku pamitnya juga mau sekolah cin tapi gimana? Aku udah nggak boleh berangkat sekolah cin, kecuali kalau bulananku sudah di bayar!” Jelas Alfi
“jadi kamu harus berhenti sekolah Fi?” sahut Ika yang baru saja keluar
“Iya ka, sebenarnya aku mau bilang sama ibuku tapi aku nggak tega Ka, Cin apalagi bapakku sekarang lagi sakit!” jelas Alfi
“emang gini ya nasib jadi orang susah. Makanya mau sekolah aja susahnya minta ampun!” ucap Ika
“husst, nggak boleh gitu kita itu jadi orang harus bersyukur. Yah walaupun memang nggak sesuai sama keinginan kita. Yasudah Fi daripada kamu pusing mau ngapain? Kamu pinjam bajunya Ika saja, Kamu ikut kita berdua ke kompleks sebelah ada warga yang habis hajatan!” ajakku
“iya bener juga tuh, gimana Fi mau nggak?”tanya Ika
“yaudah aku ikut kalian ajalah, lumayan nanti kalau barang bekasnya banyak jadi uangnya juga banyak, bisa nyicil uang bulananku!” ucap Alfi
Kami bertiga pun akhirnya bersama sama menuju ke kompleks sebelah dan ternyata hari ini keberuntungan sedang melekat di kami. Dikomplek itu memang terdapat botol botol bekas yang jumlahnya banyak. Kami pun segera menjual barang barangnya ke pengepul di dekat daerah kami.
Kami menerima uang tunai sejumlah Rp. 60 000, lalu uang itu kami bagi menjadi tiga, jadi setiap dari kami menerima uang sejumlah Rp. 20 000, memang jumlah yang tidak seberapa tetapi untuk kami sangat seberapa. Setelah uang itu kami bagi, kami menuju ketempat biasa kami berkumpul.
“Alhamdullillah lumayan dapat Rp. 20 000,!” syukur Ika
“Fi emangnya berapa uang bulananmu per bulan?” tanyaku
“Rp. 70 000, jadinya aku harus bayar Rp. 140 000, cin!” jelas Alfi
“terus kamu punya simpanan uang?” tanyaku lagi
“punya cin, aku kemarin punya Rp. 30 000, sama hari ini Rp. 20 000, jadi aku punya Rp. 50 000,!” jelasnya
“nih!” ucap Ika sambil menyodorkan uang Ke Alfi
“loh untuk apa ini?” tanya Alfi
“ya buat bayar uang bulananmu, ini uang yang tadi punya ku sama cindy jadi sementara ini uangmu kan Rp. 90 000, jadi kurang Rp. 50 000, kan!” ucap Ika
“Iya fi terima saja nanti habis dzuhur kita bantuin bu Anis bersih bersih rumah, lumayan kan nanti kalau dapet upah!” ucapku
“Tapi ini kan uang kalian, aku jadi nggak enak sama kalian!” Ucap Alfi
“Fi dengerin kita ya, kita bertiga itu udah bareng bareng  dari kecil dan kamu tahu sendiri kan diantara kita yang masih bisa sekolah Cuma kamu, jadi jangan sampai kamu berhenti!” ucapku
“iya fi nanti kalau kamu berhenti sekolah siapa yang bakal  ngajarin kita buat belajar!” ucap Ika
“makasih ya kalian udah mau bantu aku.” Ucap Alfi
“iya sama sama fi, kalau kita berdua bisa bantu pasti kita bakalan bantu kamu terus, tapi jangan suruh kita berdua buat bantu kamu tentang aljabar, aku yang itu belum ngerti!” ucapku
Sehabis dzuhur kami pun bergegas menuju ke rumah bu Anis untuk membantu bersih bersih. Bu Anis adalah orang kaya di desa ini.
“Asallamuallaikum bu Anis!” salam kami bertiga
“Walaikumsallam.” Ucap buAnis
“bu Anis jadikan kami di suruh bersih bersih?” tanya Ika
“iya jadilah tapi hari ini bersih bersihnya banyak, tapi tenang saja nanti ibu kasih tambah uangnya!” ucap bu Anis
“iya bu!” ucapku
Biasanya jika bu Anis menyuruh kami untuk membersihkan rumahnya, setiap dari kami mendapat uang Rp. 7000, jadi nanti kan lumayan nanti bisa buat bantu Alfi. Kami memang sangat senang bisa melihat Alfi sekolah walaupun terkadang aku dan Ika juga merasa cemburu. Kami berdua juga ingin bersekolah tapi kondisi yang seakan akan melarang kami untuk bersekolah.
Ika tidak sekolah karena orang tuanya sudah meninggal, ayahnya meninggal sejak Ika berumur 10 tahun dan ibunya baru satu tahun yang lalu. Sedangkan aku, aku tidak bersekolah karena aku tidak ada yang membiayai jadi aku dan ika senasib. Sama sama tidak bisa sekolah, sama sama ditinggal pergi orang tua hanya bedanya Ika sudah dirawat mereka selama ber tahun tahun sedangkan aku tidak sama sekali, namun itu bukanlah suatu hal yang menjadi penghalang untuk kami hidup bersama.
Dua jam kemudian kami selesai membersihkan ruangan ibu Anis. Biasanya sih nggak sampai lama kaya gini tapi memang hari ini rumah bu Anis sangat kotor. Jadi membersihkannya pun juga lama. Hinnga akhirnya kami sampai di kesempatan yang kami tunggu tunggu. Bu Anis keluar dari rumah dengan membawa uang.
“ini buat kalian, di bagi ya!” suruh bu Anis
“Bu Anis, ini tidak kelebihan?” tanyaku
“nggak, hari ini kan rumah ibu kotor banget jadinya kalian juga lama kan bersih bersihnya. Jadi terima saja!” ucap bu Anis
“terima kasih ya bu Anis, kami pamit dulu Asallamuallaikum!” ucap Alfi
“Walaikumsallam, hati hati di jalan.” Ucap bu Anis
“iya bu.” Ucap Ika
“tuh kan bener banget, aku nggak nyangka hari ini aku bakal dapet uang sebanyak ini! Yah walaupun sebagian uang kalian.” Ucap Alfi
“nggak papa, nih fi aku punya uang Rp. 5 000, jadi udah pas kan, besok kamu cepet bayar jadi kamu bisa sekolah lagi!” ucapku
“makasih ya, aku beruntung punya sahabat kaya kalian, aku janji aku bakal sekolah yang bener biar jadi orang yang sukses, nanti kalau udah sukses pasti aku ajak juga kalian supaya sukses.” Ucap Alfi
“Amin.” Ucapku
“ya udah kamu pulang sana nanti di cariin ibumu, jangan lupa ganti bajumu dulu.” Suruh Ika
“iya. Yaudah aku pulang dulu ya Ika, Cin! Asallamuallaikum!” pamit Alfi
“Walaikumsallam.” Jawab kami berdua
Malam ini langit punya banyak teman ada bintang, bulan dan yang lainnya. Bulan diatas sangat beruntung karena banyak bintang yang menemani, cukup membuat sedikit hiburan untukku bisa melihat bulan dan bintang di atas.
Walaupun cacing cacing di perutku, sedikit mengganggu kebahagianki. Memang dari tadi pagi aku belum makan,  rencananya uang sisaku yang Rp. 5000, akan ku gunakan untuk membeli makanan tapi Alfi lebih membutuhkannya. Jadinya lebih baik uang itu aku pun memutuskan untuk tidur saja, siapa tahu nantinya lapar yang melandaku sedikit demi sedikit bisa hilang.
Keesokan harinya aku mulai bangun, aku terbangun karena di luar ada bising bising kecil. Entah apa yang terjadi diluar. Akupun segera keluar ingin sekedar mengetahuinya.
“Mbak Fitri ada apa tho? Kok pada ribut ribut?” tanyaku
“itu loh Cindy, tadi bapaknya Alfi di bawa pulang ke rumah saudaranya di Jawa Timur!” jawab Mbak fitri
“terus Alfi juga ikut mbak?” tanyaku
“iya keluarganya Alfi pindah kesana, tadi kata ibunya mereka bakalan tinggal disana. Soalnya disana kemungkinan mereka bakalan hidup lebih layak disana, yaudah cin mbak pergi dulu.” Ucap mbak Fitri
“Iya mbak makasih ya!” ucapku
“iya sama sama.” Jawab mbak Fitri
Akupun merasa bingung, temanku Alfi pergi tanpa meninggalkan secarik kertas pun. Apa mungkin dia terlalu buru buru, tapi apa begitu memakan waktu yang lama untuk berpamitan.
“cindy, cepat kemari?” suruh Ika
“Ada apa ka, tad Alfi pamit kamu ya?” tanyaku
“nggak, tapi tadi ibunya menitipkan surat ini ke aku, katanya ini surat untuk kita berdua.” Ucap Ika
“sudah kamu baca?” tanyaku
“Belum aku tadi menunggu kamu!” ucap Ika
“ya sudah ayo kita baca bersama.” Ajakku
“yuk.”  Ucap Ika sambil mebuka Amplop
                                                                        Untuk Sahabatku
Cindy dan Ika
Malam ini aku dan keluarga berencana pindah ke rumah saudaraku di daerah Jawa Timur. Tadinya aku ingin menolak rencana itu tapi aku tidak bisa, kata ibuku ini demi kebaikan ku dan keluargaku. Aku juga ingin berterima kasih sama kalian berdua karena kalian berdua sudah sudi menjadi temanku selama ini.
o ya makasih juga buat kemarin, kalian sudah membantuku mengumpulkan uang untuk membayar bulanan ku. Tapi uang itu tak jadi ku gunakan untuk membayar uang bulanan, melainkan aku gunakan untuk membayar ongkos pergi ke JawaTimur. Maaf Ya!!!
Satu hal lagi aku minta maaf karena aku nggak bisa pamit sama kalian. Jadinya aku lebih memilih menulis surat ini soalnya kalau aku pamit, pasti kalian keposih, jadinya surat inilah yang cocok.
untuk Ika tetap semangat ya, rajin belajar dan mengaji supaya kamu bisa mendoakan orang tuamu.
untuk Cindy aku sedikit ingin bercerita kepadamu mengenai jati dirimu. Maafkan aku cin, aku tidak memberitahumu mengenai hal ini, ternyata dulu orang tuamu meninggalkanmu diperumahan kumuh ini, dulu ayah dan ibunya Ika yang mengambilmu. Ditubuhmu ada selembar kertas bertuliskan “Cindy Pramesti” maka dari itu ayahku berfikir kalau itulah namamu. Kata ayahku ayah dan ibumu juga seumuran dengan orang tuaku dan kata ayahku nanti jika kamu besar, nanti kamu bisa bertemu orang tuamu. insyaAllah Cindy aku kira hanya itu saja yang perlu aku sampaikan. Jangan lupakan aku ya!!! Aku juga akan selalu mengingat kalian berdua
Sahabatmu
Alfi
Tanpa terasa air mataku membasahi pipiku. Ternyata selama ini dirawat oleh orang orang yang berhati mulia, mereka dengan ikhlas merawatku, padahal aku bukan anggota kandung dari mereka. Dan aku juga baru tahu ternyata orang tuaku juga telah memberikan nama yang indah untukku.
setidaknya orang tuaku memang sudah berniat membiarkanku untuk hidup. Dan ada kemungkinan juga nantinya orang tuaku akan mencariku. Semoga saja terjadi.
“yaudahlah cin, mending kita pulang ke rumah, yang pentingkan Alfi setidaknya sudah mengirimi kita surat!” Ajak Ika
“iya ka, aku sudah cukup lega, setidaknya Alfi sudah berpamitan dengan kita! Aku duluan ya ka! Asallamualaikum!” pamitku
“Walaikumsallam.” Jawabnya
Selalu terbayang di pikiranku betapa indahnya hidup bersama kedua orang tua. Tapi tak ku pungkiri juga sedikit dihatiku memendam rasa benci kepada orang tuaku. Kenapa sampai sekarang mereka tidak mencariku, apa mereka sudah tidak berniat untuk menemuiku. Entahlah jika memang aku bisa dipertemukan lagi dengan mereka maka tak mustahil juga aku bisa bersama mereka.
seiring berjalannya waktu aku lebih sering mengambil barang-barang bekas disekitar sekolahan yang ada di dekat perumahan kumuh. Kebiasaanku setelah mengambil barang barang bekas, aku menyempatkan untuk mengintip kegiatan belajar mengajar kelas VII, aku selalu menulis materi yang ditulis di papan tulis oleh guru. Materi itu aku tulis pada buku usangku yang dulu aku ambil dari hasil barang yang ngambil dari tempat sampah. Dan untung saja pak satpam tidak pernah mengusir atau melarangku untuk melihat, aku sangat beruntung masih bisa merasakan bagaimana indahnya berdiri  diatas tanah sekolah. Dan satu lagi untung saja aku juga tidak pernah diusir dari sekolahan ini. Sungguh Tuhan sedang menjagaku.
Bisa ku hitung aku sudah sekitar 3 bulan akuu rutin berhenti di sekolahan ini. Hingga suatu hari pada saat aku sedang menulis, tiba tiba ibu guru yang sedang mengajar didalam kelas tiba tiba keluar dari ruanga, akupun segera pergi. Namun ibu guru itu menyuruhku untuk berhenti.
“sebentar, jangan lari.” Ucap ibu guru
Akupun menoleh “maaf bu saya tidak bermaksud mengganggu kegiatan belajar mengajar, saya hanya ingin belajar bu!” ucapku berusaha menjelaskan
“iya, iya tidak apa-apa saya hanya ingin berbincang dengan kamu apa boleh?” tanya ibu guru
“boleh bu tapi saya minta maaf bu!” ucapku lagi
“iya, nama kamu siapa?” tanya ibu guru sambil mengajakku duduk di bangku sebelah kelas
“nama saya Cindy Pramesti! Kalau ibub sendiri?” tanyaku
“nama saya Devi Widyaningsih, saya wali kelas, kenapa kamu tidak sekolah?” tanya bu Devi
“ibu tahu kalau saya sering datang kesini?” tanyaku
“iya saya sering melihat kamu datang ke kelas, kenapa kamu tidak sekolah?” tanya bu Devi
“bisa makan saja sudah bersyukur bu, buat saya yang terpenting itu bisa cari uang buat nerusin hidup dan membantu warga sekitar walaupun memang saya akui sekolah itu juga penting.” Ucapku
“iya itu kamu tahu kalau sekolah juga penting, maaf sebelumnya orang tua kamu ?” tanya ibu guru
“saya sudah ditinggalkan orang tua saya sejak saya bayi bu jadi saya tidak tahu siapa orang tua saya!”  jawabku
“kamu masih berkeinginan untuk sekolah lagi?” tanya ibu guru
“pasti bu, tapi saya cukup tahu diri, saya tidak akan mampu membayar bayaran sekolah. Apalagi bayaran sekolah sekarang mahal jadi mana mungkin saya bisa membayarnya!” ucapku
“kalu ada yang ingin menyekolahkanmu?” tnya bu devi
“iya pasti mau bu, tapi masalahnya memangnya ada yang mau menyekolahkan saya?” tanyaku
“kalau yang ingin menyekolahkan kamu saya bagaimana? Apa kamu mau? Saya itu punya anak seumuran kamu  seharusnya, tapi Tuhan berkehendak lai, anak saya dan suami saya meninggal dunia.” Jelas bu Devi
“suami dan anak ibu sakit?” tanyaku
“mereka kecelakaan pada saat ingin berwisata kerumah neneknya, saat itu saya tidak bisa ikut karena saya harus mengajar!” jelas bu Devi lagi
“ maaf bu saya tidak bermaksud menyinggung masalah ibu, saya kira tadi suami ibu dan anak ibu sakit!” jelasku
“iya tidak apa apa lalu bagaimana dengan tawaran saya tadi? Saya harap kamu tidak menolak!” punta bu Devi
“memangnya ibu tidak keberatan? Saya kan bukan siapa sipa ibu!” ucapku
“saya tidak pernah merasa keberatan, kamu itu pandai dan rajin jadi saya malah senang jika kamu menerima tawaran saya!” ucapnya
“saya mau bu!” ucapku
Setahun kemudian aku sudah bersekolah disekolahan initeman temanpun tidak ada yang membedakanku malah mereka dengan senang hati menjadi temanku. Merekapun sering memohon untukku agar diantar ke perumahan kumuh. Akupun dengan senang hati mengantarkan mereka dan satu hal lagi sekarang Ika pun juga bisa sekolah, kearena sekarang Ika dirawat oleh saudaranya. Sungguh aku sangat bersyukur Ika dan Alfi bisa hidup nyaman bersama orang-orang yang mereka sayang. Akupun juga bahagia saat ini karena aku bisa mendapatkan keluarga baru yang mau menganggapku sebagai anaknya sendiri.
Ayah, ibu walaupun aku sudah menemukan keluarga baru, tetap yang menjadi harapanku adalah aku bisa bertemu kalian berdua. Sungguh itu yang tetap aku inginkan, dan sekarangpun aku sudah membuang jauh-jauh perasaan benciku terhadap kalian. Doaku semoga kalian diberi kesehatan, diberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas, kalian sukses dan kalian diberikan kebahagiaan. Aku yakin kita semua akan selalu diberi hiburan yang indah untuk menghibur hati yang terluka.
Harapan terakhirku di kisah ini kita mampu menyelesaikan masalah masalah yang kita hadapi dengan senyuman.
~SELESAI~
Ketika waktu mempertemukan
Oleh: Chilviana Ayu Siptiani Putri
Ada kalanya seseorang mengatakan “Hidup tidak akan berjalan tanpa uang, hidup tidak akan imbang tanpa uang” akan tetapi apa manusia pantas diperbudak oleh uang?
Manusia terkadang terlihat bodoh ketika harus berurusan dengan uang karena pada dasarnya banyak manusia yang terlalu terobsesi akan uang. Jarang dari mereka yang mampu menerjemahkan apa itu uang, terkadang memang uang mampu memenuhi segala hal yang diinginkan oleh seseorang, namun satu hal uang juga mampu mendorong manusia untuk menikmati yang bukan haknya. Satu dari sekian manusia pasti juga mempunyai pola pemikiran bahwa uang adalah yang utama maka dari itu apapun caranya bagaimanapun caranya uang harus ada ditangan. Hal itulah yang mengakibatkan banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
Aku adalah salah satu orang yang menjadi korban kejamnya uang dimana uang telah mengambil ibu dan ayahku ,mengambil pendidikanku dan mengambil beberapa hal yang seharusnya memang jadi milikku. Ketika aku berumur 5 tahun orang tuaku memutuskan untuk berpisah, ibuku yang menggugat cerai ayahku dengan alasan  tidak terpenuhinya hak haknya. Menurut nenekku ibuku meninggalkan ayahku karena waktu itu ayahku sudah jatuh bangkrut, usaha yang sempat mengantarkan kami ke kehidupan yang bisa dikatakan layak, namun pada akhirnya bangkrutnya usaha ayah juga mengantarkan kami ke kehidupan yang serba kekurangan.
Saat itu aku belum tahu sepenuhnya apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua, mungkin karena umurku yang baru 6 tahun sehingga yang aku pikirkan hanyalah senangnya bermain dengan boneka boneka yang dibelikan oleh mereka.
Beberapa hari kemudian keasyikanku bermain boneka memang bisa dikatakan mulai tak seasyik hari hari kemarin, mulai hari itu aku sering mendengar ayah dan ibuku selalu beradu mulut. Ayah bicara ibupun menjawab dan terus berjalan seperti itu. Jujur aku akui waktu itu sudah terasa di hatiku perasaan takut karena tak jarang juga ayah melempar barang yang ada disekitarnya, ibu pun tak mau kalah juga ibu juga ikut melempar sesuatu yang ada didekatnya.
jika sudah seperti itu nenek pun tidak bisa berbuat apa apa, nenek hanya berusaha menjauhkan ku dari tempat itu. Nenek sering mengajakku ke belakang rumah berusaha bercerita yang mungkin ditujukan supaya aku tak lagi mendengar bising bising didalam, tetapi aku tak tuli tetap saja aku mendengar. Aku beranikan diri untuk bertanya kepada nenek “ayah sama ibu kenapa?” namun hasilnya ia hanya menjawab “mereka tidak apa apa” hanya itu yang selau keluar dari bibir tipis nenek.
Situasi didalam lama kelamaan mulai tenang , entalah apa yang terjadi tapi yang pasti nenek mengajakku untuk kembali kedalam. Setelah berada didalam aku mulai menengok kesana kemari namun tak terlihat ayah atau ibu mungkin mereka telah meninggalkan rumah.
“Nek ayah sama ibu kemana?” tanyaku kepada nenek
“mungkin ayahmu ke toko.” Jawabnya
“ibu?” tanyaku kembali
“mungkin kepasar.” Jawabnya kembali
Mendengarkan jawaban nenek aku pun berhenti untuk bertanya aku kira sudah tidak ada yang perlu ditanyakan lagi dan akhirnya akupun masuk kekamar dan mulai merambah boneka ku lagi.

Matahari enggan menampakkan sinarnya lagi bertanda bulan dan bintang lah yang akan menggantikan tugas matahari untuk menyinari gelapnya malam, akan tetapi kelihatannya bulan dan bintang juga enggan menampakkan sinarnya buktinya saat akuberdiri didepan jendela bulan tak ada apalagi bintang satupun tak ada yang muncul ke permukaan. Yang terlihat hanyalah kabut hitam awan yang diiringi gemeruh dari ujung sana, detik demi detik suara tetesan air terdengar diatas rumah yang akhirnya turun kebawah gemerciknya menetes ketanah. Kejenuhanku terobati sejenak karena hujan telah menggantikan bulan dan bintang sebagai hiburan untukku.
malam ini sebenarnya aku sedang menunggu kepulangan ayah maupun ibu disini aku mulaai berpikir “emang pasar buka sampai malam ya?” pertanyaan itulah yang bertebangan diotakku hingga akhirnya ketokan pintu membuatku kaget.
“nenek?” ucapku
“belum tidur?” tanyanya
“nunggu ayah sama ibu pulang nek, o ya memangnya ibu kepasar mana sih nek, kita susul yuk kasihan ibu jangan jangan kehujanan.” Ucapku
“ibumu tidak kehujanan, sudalah cepat tidur sudah malam.” Suruhnya
“tapi......” ucapku terpototong
“sudah sudah cepat tidur selamat tidur sayang jangan lupa berdoa.” Ucap nenek menyelimutiku dengan selimut kesayanganku
“iya nek.” Ucap ku
Suara kicauan burung perlahan mulai terdengar ditelingaku serta sinar matahari yang mulai menembus celah celah jendela juga membuatku terbangun. Aku pun segera bangun dan keluar agar barangkali sosok yang ku nanti sudah ada di depan ruang tamu, namun nihil yang ada diruang tamu hanya nenek seorang entah dimana kedua orangtuaku itu, apa mungkin ibu kedinginan sampai sampai tidak bisa pulang lalu apakah ayah sedang sibuk.
“pagi cucu kesayangan nenek.” Sapa nenek
“pagi nek, ayah sama ibu belum pulang ya?” tanyaku
“tadi sudah hanya saja mereka berdua harus cepat kembali pergi karena ayah dan ibumu sedang sibuk.” Jelasnya
“oh begitu ya nek, terus siapa yang nganter aku sekolah nek?” tanyaku kembali
“ya nenek dong, sekarang nenek anter mandi yuk.” Ajak nenek
“ok nek.” Ucapku
Akhirnya hari ini pun aku sekolah diantarkan nenek, memang hari ini ada sedikit yang berbeda kalau biasanya nenek mengantarkan aku sekolah naik taksi namun hari ini tidak, hari ini nenek mengantarkanku dengan naik angkot. Tapi buatku itutidaklah begitu bermasalah mungkin taksinya hari ini libur atau mungkin taksi langganan nenek bannya bocor atau apalah. Yang terpenting hari ini aku ada yang mengantar pergi kesekolah.
“nek aku masuk dulu ya nanti jangan lupa dijemput ya!” ingatku untuk nenek
“ya nanti nenek jemput jangan nakal ya, kalau nanti buguru sedang menjelaskan harus dengerin nggak boleh ngomong sendiri kasihan buguru nya nanti.” Nasihat nenek
“pasti nek.” Jawabaku
“yasudah nenek pulang dulu ya Assalamualaikum.” Salamnya
“Wallaikumsallam nek.” Sahutku

Aku pun berusaha untuk mengikuti pelajaran dengan semangat walaupun saat ini yang ada dipikiranku hanyalah ingin cepat cepat pulang supaya bisa cepet ketemu ibu dan ayah terus bisa cepet main boneka bareng sama mereka. Dan setelah pukul 10 00 WIB akhir nya yang kutunggu tunggu sudah tiba bel pulang akhirnya berbunyi, akupun senang dan setelah bel pulang berbunyi akupun bergegas keluar menuju gerbang, ternyata nenek sudah didepan gerbang aku pun berlari kecil menuju kearah nenek.
“nenek.” Ucapku
“yuk pulang.” Ajak nenek
“naik apa nek?” tanyaku
“ya naik angkot taksinya hari ini nggak bisa dateng sopirnya hari ini libur.” Jelas nenek
“oh lha itu ada taksi nek, kita naik taksi itu aja.” Ucapku sembari menunjuk taksi di jalan
“itu udah dipesen sama orang.” Ucap nenek berbohong
“ya udah nggak papa deh yuk nek.” Ajakku
“ya!” ucap singkat nek
Kami akhirnya sampai dirumah namun betapa terkejutnya kami saat melihat rumah kami dipenuhi orang orang berpakaian serba hitam berbadan tegap sebagian kepalanya botak. Entah apakah yang mereka lakukan dirumah kami yang pasti mereka mengeluarkan pakaian pakaian kami keluar. Nenek pun mengajakku untuk mendekat lalu nenek bertanya kepada mereka.
“apa yang anda semua lakukan disini kenapa pakaian kami dibuang kesini?” tanya nenek kepada orang orang itu
“kami hanya melaksanakan tugas dari ibu Natasya.” Jawab salah satu diantara mereka
“tugas apa?” ucap nenek kembali
“tuan Danang  sudah berbulan bulan tidak membayar hutangnya ke majikan kami sesuai perjanjian rumah ini akan kami segel dan untuk keluarga yang menempati tempat ini harus segera mengosongkan rumah ini.” Jelasnya
“tidak bisa ini rumah kami jadi kami berhak untuk menempati rumah ini” bantah nenek
“ibu segera tinggalkan rumah ini atau tidak kami akan melakukan tindakan yang lebih keras terhadap ibu.” Ucapnya

“tidak bisa seperti itu kalau memang anak saya punya hutang kepada majikan anda tlong beri kesempatan untuk kami kasih waktu tenggang untuk kami.” Mohon nenek
“tidak bisa ini sudah kesepakatan antara tuan Danang dengan majikan kami.” Ucap orang itu
“om jangan galak galak dong kalau om suruh aku sama nenek pergi dari rumah ini terus kita nanti tinggal dimana om?” tanyaku
“bukan urusan kami sekarang cepat tinggalkan tempat ini jangan memperlambat kerja kami.” Bentak om tadi
“tolong jangan usir kami.” Mohon nenek sembari menangis
“om jangan usir aku sama nenek om.” Ucapku membantu nenek
“sudah sana cepat pergi.” Suruh
            Nenek pun lebih memilih pergi dari rumah itu daripada melawan orang orang galak itu. Aku pun mengikuti langkah nenek, nenek membawa dua tas dan kardus sedangkan aku menggendong tasku dan membawa boneka. Di sepanjang perjalanan aku mulai bosan nenek tidak mengajakku bicara nenek hanya diam tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Ditengah perjalanan entah kebetulan atau tidak kami bertemu dengan ayah kemudian nampaknya ayah jugga melihat kami dan ayah pun berlari menuju arah kami.
“mah maafin Danang mah.” Ucap ayah
“kenapa kamu nggak pernah ngomong samamamah kalau kamu berhutang dengan ibu Natasya? Bukannya kamu tahu dia itu orang yang kejam dia sering berlagak baik pada saat melihat orang yang kelihatanya sedang kesusahan tapi sebenarnya itu salah satu tipu muslihatnya.” Ucap nenek
“ya mah Danang ngaku salah waktu itu Danang nggak ngomong dulu sama mamah.” Jawab ayah
“terus sekarang kita mau tinggal dimana? Kasihan anakmu dia pasti lelah.” Ucap nenek
“Elina sayang sini nak tasnya biar ayah bawa, sekarang kita pulang kerumah yang baru ayah udah punya rumah buat tempat tinggal kita.”  Ucap ayah
“rumahnya dimana yah?” tanyaku kepada ayah
“tidak jauh dari sini yuk.” Ajaknya
“yah kok dari kemarin nggak pulang kata nenek tadi pagi ayah pulang tapi kok nggak nemuin Elina dulu?” tanyaku
“oh tadi pagi ayah buru buru.” Jawab ayah bingung
“terus ibu kok nggak ikut kita?” tanyaku lagi
“ibumu ehm ehm ibumu lagi ada acara mendadak.” Ucap ayah terbata bata
“terus terus yah rumah kita tingkat kan yah, terus ada AC nya kan?” tanyaku lagi
“sudah sudah ikuti saja ayahmu nanti juga tahu.” Sahut nenek
            Akupun mengikuti gerak langkah kaki ayahku, di perjalanan pun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku, ayahku, maupun nenek.
hingga akhirnya kami sampai didepan rumah yang bentuknya kecil namun bersih, dengan warna cat yang sudah usang. Dan ternyata itu rumah kami yang baru, sedikit tak pernah terbayang aku dan keluargaku akan menjadi seperti ini.
“ini rumah baru kita ayah harap Elina mau menerima rumah ini, ya memang nggak ada ac nya tapi yang terpenting kita bisa istirahat dulu, dan Danang juga berharap mamah mau tinggal disini.” Ucap ayah
“iya nang mamah nggak papa.” Ucap nenek
“Elina juga nggak papa tinggal disini juga enak.” Ucap ku
            Selama dirumah baru aku benar benar kehilangan sosok ibuku, setiap kali aku bertanya kepada ayah, ayah hanya menjawab saat ini ibu sedang bekerja diluar kota. Akupun cukup mempercayai itu hingga 10 tahun akhirnya berlalu sekarang aku sudah duduk dikelas 11 SMA dimana sekarang aku sudah bisa dikatakan sebagai seorang gadis. Namun diumurku yang ke 16 tahun ini aku hanya tinggal bersama ayahku karena nenekku sudah meninggal 3 tahun yang lalu.
“yah Elin berangkat sekolah dulu ya! Asallamualaikum.” Salamku
“walaikumsalam, hati hati dijalan !” ucap ayah
“iya yah.” Jawabku
sesampainya disekolah seperti biasa aku di sambut dengan sahabat terbaikku dia adalah Risti dia anak pengusaha terkenal Ayahnya bernama Dermawan Satria, seorang pengusaha Kue di daerah ini, Risti juga sering membawakan aku kue. Tapi selama ini aku hanya pernah ketemu dengan ayahnya saja kalau ibunya aku belum pernah melihatnya, menurut ceritanya ibunya mengurusi butiknya sehingga dia selalu sibuk dan nama ibunya Tata.
“Pagi Elin?” ucapnya
“Pagi Ris, selalu begini ya kamu lebih awal datangnya dari aku.” Ucapku
“iya lah Rista gitu loh, o ya tadi ayahku nyari kamu sebenarnya tapi kamunya belum dateng jadinya ayahku ya langsung berangkat ke kantor.” Ucapnya
“emangnya ada apa Elin, ayah kamu mencariku?” tanyaku
“nanti kamu disuruh kerumah buat ngajarin aku tugas kimia. Mau ya? Sekalian aku kenalin kamu sama mamahku, hari ini tuh mamahku free.” Ucapnya
“ok! Pasti aku mau, lagian aku juga pengen ketemu mamahmu, tapi sebentar aja ya soalnya aku harus bantuin bapak  nyiapan dagangan buat besok.” Jawabku
“ok!” ucap  Risti
            Kegiatan belajarpun satu per satu sudah mulai dilaksanakan dan akhirnya bel pulang pun telah berbunyi, akupun keluar dari kelas bersama Risti menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda ku, hari ini memang Risti tidak di jemput jadinya dia aku bonceng.
“Ris, nanti bayar ya? Aku capek tau goncengin kamu, sekarang kamu itu berat.” Ejekku
“ishh Elin tega banget sih aku tuh nggak seberat itu lagi paling bulan ini aku naik 5 kg.” Celetuknya
“Hello OMG, Risti Risti berat badan naik kok dibilang nggak nambah berat, terus harus dibilang apa? Nambah kurus?” tanyaku
“he he he, tenang aja nanti aku bayar ongkosnya nanti kalau udah lebaran monyet.” Ucapnya
“yeee, emang kapan lebaran monyet?” tanyaku
“nggak tau, coba tanya langsung aja sama monyetnya. Hahaha.” Ucapnya
“dasar kamu Ris, o ya Ris mamah kamu orangnya gimana?” tanyaku
“dia baik banget, dia itu perhatian banget sama aku, padahal aku bukan anak kandungnya.” Ucapnya
“ya berarti kamu harus bersyukur karena punya mamah yang baik, soalnya jarangkan kita bisa punya mamah tiri yang baik.” Ucapku
“iya Elin.” Jawabnya
“Nah udah sampai nih.” Ucapku
“yaudah ayo masuk.” Ajaknya
“sebentar.” Jawabku
“siang mamah, aku pulang sama sahabatku.” Ucap Risti
akupun menoleh kearah sumber suara dan begitu terkejutnya aku ketika aku melihat sosok yang selama ini kucari dan aku rindukan.
“ibu...” ucapku
“ibu? Elina ini mamahku loh.” Ucap Risti
“Dia mamah kamu Risti?” tanyaku
“Elina?” tanya perempuan itu
“Iya ini mamah aku Lin, dia Elina mah sahabatku.” Ucap Risti
“owh jadi dia mamah kamu Ris, yang kamu bilang perhatian banget sama kamu. Mulia banget ya Ris mamah kamu, dia mau merawat dan membesarkan kamu dengan ikhlas.” Ucapku sambil menangis
“kok kamu nangis sih Lin, dan kenapa kamu panggil mamahku dengan sebutan Ibu?” tanya Risti
“tante masih inget sama saya? Saya anak kecil yang tante tinggal semenjak 10 tahun yang lalu.” Ucapku
“Elina, kamu benar Elina anak saya?” tanya beliau
“tante masih mengakui saya sebagai anak?  Lalu kemana saja tante? Kenapa tante tidak pernah menemui saya?” tanyaku
“mamah, mamah...” ucap mamah terbata bata
“tante terlalu sibuk?” ucapku
“ini ada apa sih? Aku nggak ngerti.” Ucap Risti
“Risti Elina itu anak mamah.” Ucap Mamah
“saya? Anak tante? Tidak salah?”  tanyaku
“ jadi Elina anak kandung mamah?” tanya Risti kebingungan
“Saya permisi pulang.” Ucapku langsung pergi
“Eli Elin tunggu mamah nak.” Suruh mamah
akupun tak memperdulikan Teriaknya yang ada dipikiranku saat ini aku ingin segera sampai rumah dan bertemu ayah.
“Ayah Ayah, Ayah dimana?” teriakku
“Ayah didapur.” Jawabnya
“Ayah” ucapku berhambur memeluk ayah
“Kamu kenapa?” tanya ayah bingung
“Ayah, ayah bilang ibu bekerja diluar kota, kenapa ayah bohong?” tanya ayah
“kamu sudah bertemu dengan ibumu?” tanya ayah
“sudah yah, jadi ayah sudah tau mengenai keberadaan ibu?” tanyaku lagi
“iya nak maafkan ayah, ayah tidak pernah memberi tahumu kalau ibumu adalah ibunya sahabatmu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu ibumu orang yang baik.” Ucapnya
“baik yah, ayah tidak salah? Ibu sudah meninggalkan ayah dan aku, dan memilih menikah lagi dengan seorang pengusaha.”  Ucapku
“itu hak ibumu nak, dan kamu tidak bisa menyalahkan ibumu. Dan kamu akan sangat berdosa jika kamu membencinya!” jelas ayah
“ibu sudah keterlaluan yah, Ejlin iri yah dengan Risti, bukan apa apa yah Ibu lebih memilih mengasuh anak orang lain ketimbang anaknya sendiri. Ibu juga udah kelewatan yah karena udah ninggalin ayah seharusnya ibu itu selalu menemani ayah walau susah maupun senang.” Ucap ku
“mamah tahu nak, mamah sudah keterlaluan karena sudah meninggalkan kamu dan ayah, tadinya mamah berpikir mamah akan mengajak kamu tapi ayah kamu melarang.” Ucap mamah tiba tiba di dalam rumah
“kenapa tante ada disini?” tanyaku
“tolong jangan panggil mamah dengan sebutan tante, mamah ini ibu kamu Lin.” Suruhnya
“saya tahu tante itu ibu saya, tapi bukannya itu hanya sebagai formalitas saja? Ibu saya ya ayah saya, ayah yang udah menjadi ayah sekaligus ibu saya.” Ucapku
“Elin kamu tidak boleh seperti itu, kamu tidak pantas berbicara seperti itu kepada ibu kamu. Hargai dia! Segeralah minta maaf, Elin anak ayah bukanlah seorang pendendam dan seorang pembenci.” Jelas ayah
“Elin, aku minta maaf jika selama ini aku sudah merebut kasih sayang yang seharusnya menjadi hak kamu, tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud.” Ucap Risti
“ibu minta jangan benci ibu nak.” Ucap ibu
“aku mohon El, maafkan mamah, aku berharap kita bisa menjadi saudara, aku ikhlas jika aku harus berbagi ibu dengan kamu, apalagi kamu malah yang anak kandungnya.” Ucap Risti
“apa kamu tidak mendengar ucapan Risti nak, dia saudara kamu.” Ucap ayah
“aku minta maaf  buk, Elin sudah tidak sopan sama ibu, aku juga minta maaf karena terlalu banyak menuntut ibu.” Ucapku bersujud didepan ibu
“iya nak ibu juga minta maaf.” Ucap ibu
            Sejak kejadian itu ibu selalu mengajakku berbincang dan bermain bersama, om Dermawan pun juga dengan senang hati menerimaku juga sebagai anakknya, dan Risti pun semakin sayang denganku. Ibu pun sering menyuruhku untuk tinggal bersamanya namun dengan jawaban pasti aku menolaknya, walaupun sebenarnya ayah juga mengizinkan aku. Namun, aku sudah berjanji dengan diriku aku akan selalu ikut ayah dan menemaninya sampai ajal memisahkan, karena aku sangat sayang kepadanya dan untungnya ibu juga memaklumi keputusanku ini. Dan semenjak itu pula aku bisa merasakan begitu indahnya hidup ini walau memang benar bahwa hidup itu memang membutuhkan uang.
~SELESAI~