Rabu, 06 Mei 2015

Hidup Tak Berujung
Oleh: Chilviana Ayu Siptiani Putri
Terkadang seseorang membutuhkan sesuatu hiburan untuk menghibur kejenuhan di hidupnya. Akan tetapi manusia sering kali dibuat bingung untuk memilih hiburan. Tuhan memang tidak pernah tidur maka sudah selayaknya kita bersyukur, karena-NYA setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan kapanpun kita senantiasa dijaga oleh-NYA.
Pada kodratnya manusia diciptakan lebih sempurna dari makhluk yang lainnya. Tujuannya Mungkin Tuhan lebih ingin melihat hamba-hambanya mampu menjalankan kegiatan kegiatan yang lebih dari yang lain. Tuhan lebih ingin melihat manusia mampu melakukan sesuatu hal karena kesempurnaan yang dimilikinya.
Namun, setiap kelebihan yang dimiliki manusia, manusia juga menyimpan begitu banyak kekurangan dan terkadang juga manusia lebih memperhatikan kekurangannya ketimbang kelebihannya.
Berbicara tentang kekurangan , kita diingatkan betapa besarnya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Banyak manusia yang kurang beruntung, maka sudah sepatutnya juga kita kembali mengucapkan terima kasih dengan yang diatas. Kemudian seseorang yang diberikan kekurangan dari yang diatas, ternyata mereka juga mempunyai berlipat kelebihan , bahkan kelebihan yang dimiliki orang yang kekurangan belum tentu  juga kita yang bisa dikatakan sempurna juga bisa melakukannya.
Dengarlah kawan, jika kita mampu mengartikan arti hidup yang sebenarnya maka kalian diperbolehkan untuk sedikit berbangga, kita bangga karena belum tentu apa yang kita miliki orang lain juga memilikinya.
Contoh kecil kita yang memiliki orang tua lengkap , yang walaupun setiap harinya memarahi kita, mereka yang selalu benar, mereka yang selalu menganggapp kita selaluu salah walaupun sebenarnya terkadang kita memang benar dan mereka yang selalu tidak ingin disalahkan.
Dari uraian ini terkadang kita sempat berpikir begitu bawelnya mereka, begitu egoisnya mereka, begitu garangnya mereka. Aku bosan diseperti inikan, aku benci karena aku yang selaluu disalahkan dan lainnya. Padahal tujuan awal mereka hanyalah ingin memberikan yang terbaik untuk kita, tetapi memang begitu caranya ada beberapa diantara orang tua yang mendidik anaknya dengan halus, ada pula yang dengan keras dalam artian keras didikannya bukan artian kekerasan fisik walaupun terkadang kekerasan juga turut ambil bagian didalamnya.
Contoh ini untuk kita yang masih mempunyai orang tua lengkap, lalu untuk mereka-mereka yang kurang beruntung bagaimana? Itulah cara berpikir mereka yang kurang beruntung. Mereka patut kita beri dua jempol, karena apa? Karena kebanyakan dari mereka mampu menghargai sedikit apapun kesempatan. Mereka lebih mandiri dari pada kita. Padahal mereka tidak dibimbing langsung oleh orang tuanya.
“Ayah, ibu aku rindu padamu, aku ingin bersama kalian, aku ingin dipeluk kalian, aku ingin diantar sekolah, aku ingin makan bersama kalian. Walaupun hanya di alam mimpi”. Itu jika mereka sempat melihat dan mengenali orang tuanya, lalu bagaimana “maaf” yang tidak sempat melihat orang tuanya? Dan jawabannya kebanyakan dari mereka sering mengkhayal “ mungkin ayahku seperti om itu, baik orangnya, ganteng dan mungkin ibu juga seperti tante itu cantik dan ramah. Andai saja mereka mau menemaniku begitu bahagianya aku.” Maka dari itu banyak manusia yang membutuhkan hiburan.
Aku, kalian diciptakan dengan begitu lengkap, kita diciptakan tanpa cacat sedikit pun. Akan tetapi disini aku ingin sedikit berbagi cerita mengenai hidupku. Kondisi fisik ku memang tak ada cacat sedikitpun, namun satu hal aku merasa cacat perhatian. Sejak kecil aku telah ditinggal pergi oleh orang tuaku. Itupun kata orang orang bahkan akupun tak pernah mengenali dan melihat orang tuaku. Aku adalah salah satu dari sekian banyak anak yang bisa dibilang kurang perhatian, kurang perhatian dari orang tua, lingkungan dan lainnya.
Namaku adalah Cindy Pramesti umurku saat ini menginjak 14 tahun. Aku tinggal bersama orang-orang pemungut sampah atau barang bekas. Lebih tepatnya “pemulung” aku tinggal di lingkungan ini sejak kecil dan aku di besarkan oleh mereka semua.
setiap hari aku membantu memungut barang bekas dari tempat sampah. Seperti hari ini aku berencana ke kompleks sebelah, dengar dengar kemarin salah satu warga di sana ada yang mempunyai hajatan, jadi kemungkinan besar banyak botol-boto, kertas yangg bisa dijual.
“Ika, Ika”. Panggilku
“iya sebentar aku ngambil keranjang dulu”. Jawabnya
“Cindy!” panggil seseorang
“Alfi kamu kok belum berangkat  sekolah? Inikan sudah siang. Apa nanti kamu nggak telat?” tanyaku kepada Alfi
“Aku hari ini nggak berangkat, cin!” ucap Alfi sembari duduk dibangku reok milik Ika
“loh kenapa kamu nggak berangkat? Nanti kamu di marahin orang tuamu loh!” ucapku
“uang bulananku sudah nunggak dua bulan cin, tadi aku pamitnya juga mau sekolah cin tapi gimana? Aku udah nggak boleh berangkat sekolah cin, kecuali kalau bulananku sudah di bayar!” Jelas Alfi
“jadi kamu harus berhenti sekolah Fi?” sahut Ika yang baru saja keluar
“Iya ka, sebenarnya aku mau bilang sama ibuku tapi aku nggak tega Ka, Cin apalagi bapakku sekarang lagi sakit!” jelas Alfi
“emang gini ya nasib jadi orang susah. Makanya mau sekolah aja susahnya minta ampun!” ucap Ika
“husst, nggak boleh gitu kita itu jadi orang harus bersyukur. Yah walaupun memang nggak sesuai sama keinginan kita. Yasudah Fi daripada kamu pusing mau ngapain? Kamu pinjam bajunya Ika saja, Kamu ikut kita berdua ke kompleks sebelah ada warga yang habis hajatan!” ajakku
“iya bener juga tuh, gimana Fi mau nggak?”tanya Ika
“yaudah aku ikut kalian ajalah, lumayan nanti kalau barang bekasnya banyak jadi uangnya juga banyak, bisa nyicil uang bulananku!” ucap Alfi
Kami bertiga pun akhirnya bersama sama menuju ke kompleks sebelah dan ternyata hari ini keberuntungan sedang melekat di kami. Dikomplek itu memang terdapat botol botol bekas yang jumlahnya banyak. Kami pun segera menjual barang barangnya ke pengepul di dekat daerah kami.
Kami menerima uang tunai sejumlah Rp. 60 000, lalu uang itu kami bagi menjadi tiga, jadi setiap dari kami menerima uang sejumlah Rp. 20 000, memang jumlah yang tidak seberapa tetapi untuk kami sangat seberapa. Setelah uang itu kami bagi, kami menuju ketempat biasa kami berkumpul.
“Alhamdullillah lumayan dapat Rp. 20 000,!” syukur Ika
“Fi emangnya berapa uang bulananmu per bulan?” tanyaku
“Rp. 70 000, jadinya aku harus bayar Rp. 140 000, cin!” jelas Alfi
“terus kamu punya simpanan uang?” tanyaku lagi
“punya cin, aku kemarin punya Rp. 30 000, sama hari ini Rp. 20 000, jadi aku punya Rp. 50 000,!” jelasnya
“nih!” ucap Ika sambil menyodorkan uang Ke Alfi
“loh untuk apa ini?” tanya Alfi
“ya buat bayar uang bulananmu, ini uang yang tadi punya ku sama cindy jadi sementara ini uangmu kan Rp. 90 000, jadi kurang Rp. 50 000, kan!” ucap Ika
“Iya fi terima saja nanti habis dzuhur kita bantuin bu Anis bersih bersih rumah, lumayan kan nanti kalau dapet upah!” ucapku
“Tapi ini kan uang kalian, aku jadi nggak enak sama kalian!” Ucap Alfi
“Fi dengerin kita ya, kita bertiga itu udah bareng bareng  dari kecil dan kamu tahu sendiri kan diantara kita yang masih bisa sekolah Cuma kamu, jadi jangan sampai kamu berhenti!” ucapku
“iya fi nanti kalau kamu berhenti sekolah siapa yang bakal  ngajarin kita buat belajar!” ucap Ika
“makasih ya kalian udah mau bantu aku.” Ucap Alfi
“iya sama sama fi, kalau kita berdua bisa bantu pasti kita bakalan bantu kamu terus, tapi jangan suruh kita berdua buat bantu kamu tentang aljabar, aku yang itu belum ngerti!” ucapku
Sehabis dzuhur kami pun bergegas menuju ke rumah bu Anis untuk membantu bersih bersih. Bu Anis adalah orang kaya di desa ini.
“Asallamuallaikum bu Anis!” salam kami bertiga
“Walaikumsallam.” Ucap buAnis
“bu Anis jadikan kami di suruh bersih bersih?” tanya Ika
“iya jadilah tapi hari ini bersih bersihnya banyak, tapi tenang saja nanti ibu kasih tambah uangnya!” ucap bu Anis
“iya bu!” ucapku
Biasanya jika bu Anis menyuruh kami untuk membersihkan rumahnya, setiap dari kami mendapat uang Rp. 7000, jadi nanti kan lumayan nanti bisa buat bantu Alfi. Kami memang sangat senang bisa melihat Alfi sekolah walaupun terkadang aku dan Ika juga merasa cemburu. Kami berdua juga ingin bersekolah tapi kondisi yang seakan akan melarang kami untuk bersekolah.
Ika tidak sekolah karena orang tuanya sudah meninggal, ayahnya meninggal sejak Ika berumur 10 tahun dan ibunya baru satu tahun yang lalu. Sedangkan aku, aku tidak bersekolah karena aku tidak ada yang membiayai jadi aku dan ika senasib. Sama sama tidak bisa sekolah, sama sama ditinggal pergi orang tua hanya bedanya Ika sudah dirawat mereka selama ber tahun tahun sedangkan aku tidak sama sekali, namun itu bukanlah suatu hal yang menjadi penghalang untuk kami hidup bersama.
Dua jam kemudian kami selesai membersihkan ruangan ibu Anis. Biasanya sih nggak sampai lama kaya gini tapi memang hari ini rumah bu Anis sangat kotor. Jadi membersihkannya pun juga lama. Hinnga akhirnya kami sampai di kesempatan yang kami tunggu tunggu. Bu Anis keluar dari rumah dengan membawa uang.
“ini buat kalian, di bagi ya!” suruh bu Anis
“Bu Anis, ini tidak kelebihan?” tanyaku
“nggak, hari ini kan rumah ibu kotor banget jadinya kalian juga lama kan bersih bersihnya. Jadi terima saja!” ucap bu Anis
“terima kasih ya bu Anis, kami pamit dulu Asallamuallaikum!” ucap Alfi
“Walaikumsallam, hati hati di jalan.” Ucap bu Anis
“iya bu.” Ucap Ika
“tuh kan bener banget, aku nggak nyangka hari ini aku bakal dapet uang sebanyak ini! Yah walaupun sebagian uang kalian.” Ucap Alfi
“nggak papa, nih fi aku punya uang Rp. 5 000, jadi udah pas kan, besok kamu cepet bayar jadi kamu bisa sekolah lagi!” ucapku
“makasih ya, aku beruntung punya sahabat kaya kalian, aku janji aku bakal sekolah yang bener biar jadi orang yang sukses, nanti kalau udah sukses pasti aku ajak juga kalian supaya sukses.” Ucap Alfi
“Amin.” Ucapku
“ya udah kamu pulang sana nanti di cariin ibumu, jangan lupa ganti bajumu dulu.” Suruh Ika
“iya. Yaudah aku pulang dulu ya Ika, Cin! Asallamuallaikum!” pamit Alfi
“Walaikumsallam.” Jawab kami berdua
Malam ini langit punya banyak teman ada bintang, bulan dan yang lainnya. Bulan diatas sangat beruntung karena banyak bintang yang menemani, cukup membuat sedikit hiburan untukku bisa melihat bulan dan bintang di atas.
Walaupun cacing cacing di perutku, sedikit mengganggu kebahagianki. Memang dari tadi pagi aku belum makan,  rencananya uang sisaku yang Rp. 5000, akan ku gunakan untuk membeli makanan tapi Alfi lebih membutuhkannya. Jadinya lebih baik uang itu aku pun memutuskan untuk tidur saja, siapa tahu nantinya lapar yang melandaku sedikit demi sedikit bisa hilang.
Keesokan harinya aku mulai bangun, aku terbangun karena di luar ada bising bising kecil. Entah apa yang terjadi diluar. Akupun segera keluar ingin sekedar mengetahuinya.
“Mbak Fitri ada apa tho? Kok pada ribut ribut?” tanyaku
“itu loh Cindy, tadi bapaknya Alfi di bawa pulang ke rumah saudaranya di Jawa Timur!” jawab Mbak fitri
“terus Alfi juga ikut mbak?” tanyaku
“iya keluarganya Alfi pindah kesana, tadi kata ibunya mereka bakalan tinggal disana. Soalnya disana kemungkinan mereka bakalan hidup lebih layak disana, yaudah cin mbak pergi dulu.” Ucap mbak Fitri
“Iya mbak makasih ya!” ucapku
“iya sama sama.” Jawab mbak Fitri
Akupun merasa bingung, temanku Alfi pergi tanpa meninggalkan secarik kertas pun. Apa mungkin dia terlalu buru buru, tapi apa begitu memakan waktu yang lama untuk berpamitan.
“cindy, cepat kemari?” suruh Ika
“Ada apa ka, tad Alfi pamit kamu ya?” tanyaku
“nggak, tapi tadi ibunya menitipkan surat ini ke aku, katanya ini surat untuk kita berdua.” Ucap Ika
“sudah kamu baca?” tanyaku
“Belum aku tadi menunggu kamu!” ucap Ika
“ya sudah ayo kita baca bersama.” Ajakku
“yuk.”  Ucap Ika sambil mebuka Amplop
                                                                        Untuk Sahabatku
Cindy dan Ika
Malam ini aku dan keluarga berencana pindah ke rumah saudaraku di daerah Jawa Timur. Tadinya aku ingin menolak rencana itu tapi aku tidak bisa, kata ibuku ini demi kebaikan ku dan keluargaku. Aku juga ingin berterima kasih sama kalian berdua karena kalian berdua sudah sudi menjadi temanku selama ini.
o ya makasih juga buat kemarin, kalian sudah membantuku mengumpulkan uang untuk membayar bulanan ku. Tapi uang itu tak jadi ku gunakan untuk membayar uang bulanan, melainkan aku gunakan untuk membayar ongkos pergi ke JawaTimur. Maaf Ya!!!
Satu hal lagi aku minta maaf karena aku nggak bisa pamit sama kalian. Jadinya aku lebih memilih menulis surat ini soalnya kalau aku pamit, pasti kalian keposih, jadinya surat inilah yang cocok.
untuk Ika tetap semangat ya, rajin belajar dan mengaji supaya kamu bisa mendoakan orang tuamu.
untuk Cindy aku sedikit ingin bercerita kepadamu mengenai jati dirimu. Maafkan aku cin, aku tidak memberitahumu mengenai hal ini, ternyata dulu orang tuamu meninggalkanmu diperumahan kumuh ini, dulu ayah dan ibunya Ika yang mengambilmu. Ditubuhmu ada selembar kertas bertuliskan “Cindy Pramesti” maka dari itu ayahku berfikir kalau itulah namamu. Kata ayahku ayah dan ibumu juga seumuran dengan orang tuaku dan kata ayahku nanti jika kamu besar, nanti kamu bisa bertemu orang tuamu. insyaAllah Cindy aku kira hanya itu saja yang perlu aku sampaikan. Jangan lupakan aku ya!!! Aku juga akan selalu mengingat kalian berdua
Sahabatmu
Alfi
Tanpa terasa air mataku membasahi pipiku. Ternyata selama ini dirawat oleh orang orang yang berhati mulia, mereka dengan ikhlas merawatku, padahal aku bukan anggota kandung dari mereka. Dan aku juga baru tahu ternyata orang tuaku juga telah memberikan nama yang indah untukku.
setidaknya orang tuaku memang sudah berniat membiarkanku untuk hidup. Dan ada kemungkinan juga nantinya orang tuaku akan mencariku. Semoga saja terjadi.
“yaudahlah cin, mending kita pulang ke rumah, yang pentingkan Alfi setidaknya sudah mengirimi kita surat!” Ajak Ika
“iya ka, aku sudah cukup lega, setidaknya Alfi sudah berpamitan dengan kita! Aku duluan ya ka! Asallamualaikum!” pamitku
“Walaikumsallam.” Jawabnya
Selalu terbayang di pikiranku betapa indahnya hidup bersama kedua orang tua. Tapi tak ku pungkiri juga sedikit dihatiku memendam rasa benci kepada orang tuaku. Kenapa sampai sekarang mereka tidak mencariku, apa mereka sudah tidak berniat untuk menemuiku. Entahlah jika memang aku bisa dipertemukan lagi dengan mereka maka tak mustahil juga aku bisa bersama mereka.
seiring berjalannya waktu aku lebih sering mengambil barang-barang bekas disekitar sekolahan yang ada di dekat perumahan kumuh. Kebiasaanku setelah mengambil barang barang bekas, aku menyempatkan untuk mengintip kegiatan belajar mengajar kelas VII, aku selalu menulis materi yang ditulis di papan tulis oleh guru. Materi itu aku tulis pada buku usangku yang dulu aku ambil dari hasil barang yang ngambil dari tempat sampah. Dan untung saja pak satpam tidak pernah mengusir atau melarangku untuk melihat, aku sangat beruntung masih bisa merasakan bagaimana indahnya berdiri  diatas tanah sekolah. Dan satu lagi untung saja aku juga tidak pernah diusir dari sekolahan ini. Sungguh Tuhan sedang menjagaku.
Bisa ku hitung aku sudah sekitar 3 bulan akuu rutin berhenti di sekolahan ini. Hingga suatu hari pada saat aku sedang menulis, tiba tiba ibu guru yang sedang mengajar didalam kelas tiba tiba keluar dari ruanga, akupun segera pergi. Namun ibu guru itu menyuruhku untuk berhenti.
“sebentar, jangan lari.” Ucap ibu guru
Akupun menoleh “maaf bu saya tidak bermaksud mengganggu kegiatan belajar mengajar, saya hanya ingin belajar bu!” ucapku berusaha menjelaskan
“iya, iya tidak apa-apa saya hanya ingin berbincang dengan kamu apa boleh?” tanya ibu guru
“boleh bu tapi saya minta maaf bu!” ucapku lagi
“iya, nama kamu siapa?” tanya ibu guru sambil mengajakku duduk di bangku sebelah kelas
“nama saya Cindy Pramesti! Kalau ibub sendiri?” tanyaku
“nama saya Devi Widyaningsih, saya wali kelas, kenapa kamu tidak sekolah?” tanya bu Devi
“ibu tahu kalau saya sering datang kesini?” tanyaku
“iya saya sering melihat kamu datang ke kelas, kenapa kamu tidak sekolah?” tanya bu Devi
“bisa makan saja sudah bersyukur bu, buat saya yang terpenting itu bisa cari uang buat nerusin hidup dan membantu warga sekitar walaupun memang saya akui sekolah itu juga penting.” Ucapku
“iya itu kamu tahu kalau sekolah juga penting, maaf sebelumnya orang tua kamu ?” tanya ibu guru
“saya sudah ditinggalkan orang tua saya sejak saya bayi bu jadi saya tidak tahu siapa orang tua saya!”  jawabku
“kamu masih berkeinginan untuk sekolah lagi?” tanya ibu guru
“pasti bu, tapi saya cukup tahu diri, saya tidak akan mampu membayar bayaran sekolah. Apalagi bayaran sekolah sekarang mahal jadi mana mungkin saya bisa membayarnya!” ucapku
“kalu ada yang ingin menyekolahkanmu?” tnya bu devi
“iya pasti mau bu, tapi masalahnya memangnya ada yang mau menyekolahkan saya?” tanyaku
“kalau yang ingin menyekolahkan kamu saya bagaimana? Apa kamu mau? Saya itu punya anak seumuran kamu  seharusnya, tapi Tuhan berkehendak lai, anak saya dan suami saya meninggal dunia.” Jelas bu Devi
“suami dan anak ibu sakit?” tanyaku
“mereka kecelakaan pada saat ingin berwisata kerumah neneknya, saat itu saya tidak bisa ikut karena saya harus mengajar!” jelas bu Devi lagi
“ maaf bu saya tidak bermaksud menyinggung masalah ibu, saya kira tadi suami ibu dan anak ibu sakit!” jelasku
“iya tidak apa apa lalu bagaimana dengan tawaran saya tadi? Saya harap kamu tidak menolak!” punta bu Devi
“memangnya ibu tidak keberatan? Saya kan bukan siapa sipa ibu!” ucapku
“saya tidak pernah merasa keberatan, kamu itu pandai dan rajin jadi saya malah senang jika kamu menerima tawaran saya!” ucapnya
“saya mau bu!” ucapku
Setahun kemudian aku sudah bersekolah disekolahan initeman temanpun tidak ada yang membedakanku malah mereka dengan senang hati menjadi temanku. Merekapun sering memohon untukku agar diantar ke perumahan kumuh. Akupun dengan senang hati mengantarkan mereka dan satu hal lagi sekarang Ika pun juga bisa sekolah, kearena sekarang Ika dirawat oleh saudaranya. Sungguh aku sangat bersyukur Ika dan Alfi bisa hidup nyaman bersama orang-orang yang mereka sayang. Akupun juga bahagia saat ini karena aku bisa mendapatkan keluarga baru yang mau menganggapku sebagai anaknya sendiri.
Ayah, ibu walaupun aku sudah menemukan keluarga baru, tetap yang menjadi harapanku adalah aku bisa bertemu kalian berdua. Sungguh itu yang tetap aku inginkan, dan sekarangpun aku sudah membuang jauh-jauh perasaan benciku terhadap kalian. Doaku semoga kalian diberi kesehatan, diberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas, kalian sukses dan kalian diberikan kebahagiaan. Aku yakin kita semua akan selalu diberi hiburan yang indah untuk menghibur hati yang terluka.
Harapan terakhirku di kisah ini kita mampu menyelesaikan masalah masalah yang kita hadapi dengan senyuman.
~SELESAI~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar