Rabu, 06 Mei 2015

Ketika waktu mempertemukan
Oleh: Chilviana Ayu Siptiani Putri
Ada kalanya seseorang mengatakan “Hidup tidak akan berjalan tanpa uang, hidup tidak akan imbang tanpa uang” akan tetapi apa manusia pantas diperbudak oleh uang?
Manusia terkadang terlihat bodoh ketika harus berurusan dengan uang karena pada dasarnya banyak manusia yang terlalu terobsesi akan uang. Jarang dari mereka yang mampu menerjemahkan apa itu uang, terkadang memang uang mampu memenuhi segala hal yang diinginkan oleh seseorang, namun satu hal uang juga mampu mendorong manusia untuk menikmati yang bukan haknya. Satu dari sekian manusia pasti juga mempunyai pola pemikiran bahwa uang adalah yang utama maka dari itu apapun caranya bagaimanapun caranya uang harus ada ditangan. Hal itulah yang mengakibatkan banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
Aku adalah salah satu orang yang menjadi korban kejamnya uang dimana uang telah mengambil ibu dan ayahku ,mengambil pendidikanku dan mengambil beberapa hal yang seharusnya memang jadi milikku. Ketika aku berumur 5 tahun orang tuaku memutuskan untuk berpisah, ibuku yang menggugat cerai ayahku dengan alasan  tidak terpenuhinya hak haknya. Menurut nenekku ibuku meninggalkan ayahku karena waktu itu ayahku sudah jatuh bangkrut, usaha yang sempat mengantarkan kami ke kehidupan yang bisa dikatakan layak, namun pada akhirnya bangkrutnya usaha ayah juga mengantarkan kami ke kehidupan yang serba kekurangan.
Saat itu aku belum tahu sepenuhnya apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua, mungkin karena umurku yang baru 6 tahun sehingga yang aku pikirkan hanyalah senangnya bermain dengan boneka boneka yang dibelikan oleh mereka.
Beberapa hari kemudian keasyikanku bermain boneka memang bisa dikatakan mulai tak seasyik hari hari kemarin, mulai hari itu aku sering mendengar ayah dan ibuku selalu beradu mulut. Ayah bicara ibupun menjawab dan terus berjalan seperti itu. Jujur aku akui waktu itu sudah terasa di hatiku perasaan takut karena tak jarang juga ayah melempar barang yang ada disekitarnya, ibu pun tak mau kalah juga ibu juga ikut melempar sesuatu yang ada didekatnya.
jika sudah seperti itu nenek pun tidak bisa berbuat apa apa, nenek hanya berusaha menjauhkan ku dari tempat itu. Nenek sering mengajakku ke belakang rumah berusaha bercerita yang mungkin ditujukan supaya aku tak lagi mendengar bising bising didalam, tetapi aku tak tuli tetap saja aku mendengar. Aku beranikan diri untuk bertanya kepada nenek “ayah sama ibu kenapa?” namun hasilnya ia hanya menjawab “mereka tidak apa apa” hanya itu yang selau keluar dari bibir tipis nenek.
Situasi didalam lama kelamaan mulai tenang , entalah apa yang terjadi tapi yang pasti nenek mengajakku untuk kembali kedalam. Setelah berada didalam aku mulai menengok kesana kemari namun tak terlihat ayah atau ibu mungkin mereka telah meninggalkan rumah.
“Nek ayah sama ibu kemana?” tanyaku kepada nenek
“mungkin ayahmu ke toko.” Jawabnya
“ibu?” tanyaku kembali
“mungkin kepasar.” Jawabnya kembali
Mendengarkan jawaban nenek aku pun berhenti untuk bertanya aku kira sudah tidak ada yang perlu ditanyakan lagi dan akhirnya akupun masuk kekamar dan mulai merambah boneka ku lagi.

Matahari enggan menampakkan sinarnya lagi bertanda bulan dan bintang lah yang akan menggantikan tugas matahari untuk menyinari gelapnya malam, akan tetapi kelihatannya bulan dan bintang juga enggan menampakkan sinarnya buktinya saat akuberdiri didepan jendela bulan tak ada apalagi bintang satupun tak ada yang muncul ke permukaan. Yang terlihat hanyalah kabut hitam awan yang diiringi gemeruh dari ujung sana, detik demi detik suara tetesan air terdengar diatas rumah yang akhirnya turun kebawah gemerciknya menetes ketanah. Kejenuhanku terobati sejenak karena hujan telah menggantikan bulan dan bintang sebagai hiburan untukku.
malam ini sebenarnya aku sedang menunggu kepulangan ayah maupun ibu disini aku mulaai berpikir “emang pasar buka sampai malam ya?” pertanyaan itulah yang bertebangan diotakku hingga akhirnya ketokan pintu membuatku kaget.
“nenek?” ucapku
“belum tidur?” tanyanya
“nunggu ayah sama ibu pulang nek, o ya memangnya ibu kepasar mana sih nek, kita susul yuk kasihan ibu jangan jangan kehujanan.” Ucapku
“ibumu tidak kehujanan, sudalah cepat tidur sudah malam.” Suruhnya
“tapi......” ucapku terpototong
“sudah sudah cepat tidur selamat tidur sayang jangan lupa berdoa.” Ucap nenek menyelimutiku dengan selimut kesayanganku
“iya nek.” Ucap ku
Suara kicauan burung perlahan mulai terdengar ditelingaku serta sinar matahari yang mulai menembus celah celah jendela juga membuatku terbangun. Aku pun segera bangun dan keluar agar barangkali sosok yang ku nanti sudah ada di depan ruang tamu, namun nihil yang ada diruang tamu hanya nenek seorang entah dimana kedua orangtuaku itu, apa mungkin ibu kedinginan sampai sampai tidak bisa pulang lalu apakah ayah sedang sibuk.
“pagi cucu kesayangan nenek.” Sapa nenek
“pagi nek, ayah sama ibu belum pulang ya?” tanyaku
“tadi sudah hanya saja mereka berdua harus cepat kembali pergi karena ayah dan ibumu sedang sibuk.” Jelasnya
“oh begitu ya nek, terus siapa yang nganter aku sekolah nek?” tanyaku kembali
“ya nenek dong, sekarang nenek anter mandi yuk.” Ajak nenek
“ok nek.” Ucapku
Akhirnya hari ini pun aku sekolah diantarkan nenek, memang hari ini ada sedikit yang berbeda kalau biasanya nenek mengantarkan aku sekolah naik taksi namun hari ini tidak, hari ini nenek mengantarkanku dengan naik angkot. Tapi buatku itutidaklah begitu bermasalah mungkin taksinya hari ini libur atau mungkin taksi langganan nenek bannya bocor atau apalah. Yang terpenting hari ini aku ada yang mengantar pergi kesekolah.
“nek aku masuk dulu ya nanti jangan lupa dijemput ya!” ingatku untuk nenek
“ya nanti nenek jemput jangan nakal ya, kalau nanti buguru sedang menjelaskan harus dengerin nggak boleh ngomong sendiri kasihan buguru nya nanti.” Nasihat nenek
“pasti nek.” Jawabaku
“yasudah nenek pulang dulu ya Assalamualaikum.” Salamnya
“Wallaikumsallam nek.” Sahutku

Aku pun berusaha untuk mengikuti pelajaran dengan semangat walaupun saat ini yang ada dipikiranku hanyalah ingin cepat cepat pulang supaya bisa cepet ketemu ibu dan ayah terus bisa cepet main boneka bareng sama mereka. Dan setelah pukul 10 00 WIB akhir nya yang kutunggu tunggu sudah tiba bel pulang akhirnya berbunyi, akupun senang dan setelah bel pulang berbunyi akupun bergegas keluar menuju gerbang, ternyata nenek sudah didepan gerbang aku pun berlari kecil menuju kearah nenek.
“nenek.” Ucapku
“yuk pulang.” Ajak nenek
“naik apa nek?” tanyaku
“ya naik angkot taksinya hari ini nggak bisa dateng sopirnya hari ini libur.” Jelas nenek
“oh lha itu ada taksi nek, kita naik taksi itu aja.” Ucapku sembari menunjuk taksi di jalan
“itu udah dipesen sama orang.” Ucap nenek berbohong
“ya udah nggak papa deh yuk nek.” Ajakku
“ya!” ucap singkat nek
Kami akhirnya sampai dirumah namun betapa terkejutnya kami saat melihat rumah kami dipenuhi orang orang berpakaian serba hitam berbadan tegap sebagian kepalanya botak. Entah apakah yang mereka lakukan dirumah kami yang pasti mereka mengeluarkan pakaian pakaian kami keluar. Nenek pun mengajakku untuk mendekat lalu nenek bertanya kepada mereka.
“apa yang anda semua lakukan disini kenapa pakaian kami dibuang kesini?” tanya nenek kepada orang orang itu
“kami hanya melaksanakan tugas dari ibu Natasya.” Jawab salah satu diantara mereka
“tugas apa?” ucap nenek kembali
“tuan Danang  sudah berbulan bulan tidak membayar hutangnya ke majikan kami sesuai perjanjian rumah ini akan kami segel dan untuk keluarga yang menempati tempat ini harus segera mengosongkan rumah ini.” Jelasnya
“tidak bisa ini rumah kami jadi kami berhak untuk menempati rumah ini” bantah nenek
“ibu segera tinggalkan rumah ini atau tidak kami akan melakukan tindakan yang lebih keras terhadap ibu.” Ucapnya

“tidak bisa seperti itu kalau memang anak saya punya hutang kepada majikan anda tlong beri kesempatan untuk kami kasih waktu tenggang untuk kami.” Mohon nenek
“tidak bisa ini sudah kesepakatan antara tuan Danang dengan majikan kami.” Ucap orang itu
“om jangan galak galak dong kalau om suruh aku sama nenek pergi dari rumah ini terus kita nanti tinggal dimana om?” tanyaku
“bukan urusan kami sekarang cepat tinggalkan tempat ini jangan memperlambat kerja kami.” Bentak om tadi
“tolong jangan usir kami.” Mohon nenek sembari menangis
“om jangan usir aku sama nenek om.” Ucapku membantu nenek
“sudah sana cepat pergi.” Suruh
            Nenek pun lebih memilih pergi dari rumah itu daripada melawan orang orang galak itu. Aku pun mengikuti langkah nenek, nenek membawa dua tas dan kardus sedangkan aku menggendong tasku dan membawa boneka. Di sepanjang perjalanan aku mulai bosan nenek tidak mengajakku bicara nenek hanya diam tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Ditengah perjalanan entah kebetulan atau tidak kami bertemu dengan ayah kemudian nampaknya ayah jugga melihat kami dan ayah pun berlari menuju arah kami.
“mah maafin Danang mah.” Ucap ayah
“kenapa kamu nggak pernah ngomong samamamah kalau kamu berhutang dengan ibu Natasya? Bukannya kamu tahu dia itu orang yang kejam dia sering berlagak baik pada saat melihat orang yang kelihatanya sedang kesusahan tapi sebenarnya itu salah satu tipu muslihatnya.” Ucap nenek
“ya mah Danang ngaku salah waktu itu Danang nggak ngomong dulu sama mamah.” Jawab ayah
“terus sekarang kita mau tinggal dimana? Kasihan anakmu dia pasti lelah.” Ucap nenek
“Elina sayang sini nak tasnya biar ayah bawa, sekarang kita pulang kerumah yang baru ayah udah punya rumah buat tempat tinggal kita.”  Ucap ayah
“rumahnya dimana yah?” tanyaku kepada ayah
“tidak jauh dari sini yuk.” Ajaknya
“yah kok dari kemarin nggak pulang kata nenek tadi pagi ayah pulang tapi kok nggak nemuin Elina dulu?” tanyaku
“oh tadi pagi ayah buru buru.” Jawab ayah bingung
“terus ibu kok nggak ikut kita?” tanyaku lagi
“ibumu ehm ehm ibumu lagi ada acara mendadak.” Ucap ayah terbata bata
“terus terus yah rumah kita tingkat kan yah, terus ada AC nya kan?” tanyaku lagi
“sudah sudah ikuti saja ayahmu nanti juga tahu.” Sahut nenek
            Akupun mengikuti gerak langkah kaki ayahku, di perjalanan pun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku, ayahku, maupun nenek.
hingga akhirnya kami sampai didepan rumah yang bentuknya kecil namun bersih, dengan warna cat yang sudah usang. Dan ternyata itu rumah kami yang baru, sedikit tak pernah terbayang aku dan keluargaku akan menjadi seperti ini.
“ini rumah baru kita ayah harap Elina mau menerima rumah ini, ya memang nggak ada ac nya tapi yang terpenting kita bisa istirahat dulu, dan Danang juga berharap mamah mau tinggal disini.” Ucap ayah
“iya nang mamah nggak papa.” Ucap nenek
“Elina juga nggak papa tinggal disini juga enak.” Ucap ku
            Selama dirumah baru aku benar benar kehilangan sosok ibuku, setiap kali aku bertanya kepada ayah, ayah hanya menjawab saat ini ibu sedang bekerja diluar kota. Akupun cukup mempercayai itu hingga 10 tahun akhirnya berlalu sekarang aku sudah duduk dikelas 11 SMA dimana sekarang aku sudah bisa dikatakan sebagai seorang gadis. Namun diumurku yang ke 16 tahun ini aku hanya tinggal bersama ayahku karena nenekku sudah meninggal 3 tahun yang lalu.
“yah Elin berangkat sekolah dulu ya! Asallamualaikum.” Salamku
“walaikumsalam, hati hati dijalan !” ucap ayah
“iya yah.” Jawabku
sesampainya disekolah seperti biasa aku di sambut dengan sahabat terbaikku dia adalah Risti dia anak pengusaha terkenal Ayahnya bernama Dermawan Satria, seorang pengusaha Kue di daerah ini, Risti juga sering membawakan aku kue. Tapi selama ini aku hanya pernah ketemu dengan ayahnya saja kalau ibunya aku belum pernah melihatnya, menurut ceritanya ibunya mengurusi butiknya sehingga dia selalu sibuk dan nama ibunya Tata.
“Pagi Elin?” ucapnya
“Pagi Ris, selalu begini ya kamu lebih awal datangnya dari aku.” Ucapku
“iya lah Rista gitu loh, o ya tadi ayahku nyari kamu sebenarnya tapi kamunya belum dateng jadinya ayahku ya langsung berangkat ke kantor.” Ucapnya
“emangnya ada apa Elin, ayah kamu mencariku?” tanyaku
“nanti kamu disuruh kerumah buat ngajarin aku tugas kimia. Mau ya? Sekalian aku kenalin kamu sama mamahku, hari ini tuh mamahku free.” Ucapnya
“ok! Pasti aku mau, lagian aku juga pengen ketemu mamahmu, tapi sebentar aja ya soalnya aku harus bantuin bapak  nyiapan dagangan buat besok.” Jawabku
“ok!” ucap  Risti
            Kegiatan belajarpun satu per satu sudah mulai dilaksanakan dan akhirnya bel pulang pun telah berbunyi, akupun keluar dari kelas bersama Risti menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda ku, hari ini memang Risti tidak di jemput jadinya dia aku bonceng.
“Ris, nanti bayar ya? Aku capek tau goncengin kamu, sekarang kamu itu berat.” Ejekku
“ishh Elin tega banget sih aku tuh nggak seberat itu lagi paling bulan ini aku naik 5 kg.” Celetuknya
“Hello OMG, Risti Risti berat badan naik kok dibilang nggak nambah berat, terus harus dibilang apa? Nambah kurus?” tanyaku
“he he he, tenang aja nanti aku bayar ongkosnya nanti kalau udah lebaran monyet.” Ucapnya
“yeee, emang kapan lebaran monyet?” tanyaku
“nggak tau, coba tanya langsung aja sama monyetnya. Hahaha.” Ucapnya
“dasar kamu Ris, o ya Ris mamah kamu orangnya gimana?” tanyaku
“dia baik banget, dia itu perhatian banget sama aku, padahal aku bukan anak kandungnya.” Ucapnya
“ya berarti kamu harus bersyukur karena punya mamah yang baik, soalnya jarangkan kita bisa punya mamah tiri yang baik.” Ucapku
“iya Elin.” Jawabnya
“Nah udah sampai nih.” Ucapku
“yaudah ayo masuk.” Ajaknya
“sebentar.” Jawabku
“siang mamah, aku pulang sama sahabatku.” Ucap Risti
akupun menoleh kearah sumber suara dan begitu terkejutnya aku ketika aku melihat sosok yang selama ini kucari dan aku rindukan.
“ibu...” ucapku
“ibu? Elina ini mamahku loh.” Ucap Risti
“Dia mamah kamu Risti?” tanyaku
“Elina?” tanya perempuan itu
“Iya ini mamah aku Lin, dia Elina mah sahabatku.” Ucap Risti
“owh jadi dia mamah kamu Ris, yang kamu bilang perhatian banget sama kamu. Mulia banget ya Ris mamah kamu, dia mau merawat dan membesarkan kamu dengan ikhlas.” Ucapku sambil menangis
“kok kamu nangis sih Lin, dan kenapa kamu panggil mamahku dengan sebutan Ibu?” tanya Risti
“tante masih inget sama saya? Saya anak kecil yang tante tinggal semenjak 10 tahun yang lalu.” Ucapku
“Elina, kamu benar Elina anak saya?” tanya beliau
“tante masih mengakui saya sebagai anak?  Lalu kemana saja tante? Kenapa tante tidak pernah menemui saya?” tanyaku
“mamah, mamah...” ucap mamah terbata bata
“tante terlalu sibuk?” ucapku
“ini ada apa sih? Aku nggak ngerti.” Ucap Risti
“Risti Elina itu anak mamah.” Ucap Mamah
“saya? Anak tante? Tidak salah?”  tanyaku
“ jadi Elina anak kandung mamah?” tanya Risti kebingungan
“Saya permisi pulang.” Ucapku langsung pergi
“Eli Elin tunggu mamah nak.” Suruh mamah
akupun tak memperdulikan Teriaknya yang ada dipikiranku saat ini aku ingin segera sampai rumah dan bertemu ayah.
“Ayah Ayah, Ayah dimana?” teriakku
“Ayah didapur.” Jawabnya
“Ayah” ucapku berhambur memeluk ayah
“Kamu kenapa?” tanya ayah bingung
“Ayah, ayah bilang ibu bekerja diluar kota, kenapa ayah bohong?” tanya ayah
“kamu sudah bertemu dengan ibumu?” tanya ayah
“sudah yah, jadi ayah sudah tau mengenai keberadaan ibu?” tanyaku lagi
“iya nak maafkan ayah, ayah tidak pernah memberi tahumu kalau ibumu adalah ibunya sahabatmu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu ibumu orang yang baik.” Ucapnya
“baik yah, ayah tidak salah? Ibu sudah meninggalkan ayah dan aku, dan memilih menikah lagi dengan seorang pengusaha.”  Ucapku
“itu hak ibumu nak, dan kamu tidak bisa menyalahkan ibumu. Dan kamu akan sangat berdosa jika kamu membencinya!” jelas ayah
“ibu sudah keterlaluan yah, Ejlin iri yah dengan Risti, bukan apa apa yah Ibu lebih memilih mengasuh anak orang lain ketimbang anaknya sendiri. Ibu juga udah kelewatan yah karena udah ninggalin ayah seharusnya ibu itu selalu menemani ayah walau susah maupun senang.” Ucap ku
“mamah tahu nak, mamah sudah keterlaluan karena sudah meninggalkan kamu dan ayah, tadinya mamah berpikir mamah akan mengajak kamu tapi ayah kamu melarang.” Ucap mamah tiba tiba di dalam rumah
“kenapa tante ada disini?” tanyaku
“tolong jangan panggil mamah dengan sebutan tante, mamah ini ibu kamu Lin.” Suruhnya
“saya tahu tante itu ibu saya, tapi bukannya itu hanya sebagai formalitas saja? Ibu saya ya ayah saya, ayah yang udah menjadi ayah sekaligus ibu saya.” Ucapku
“Elin kamu tidak boleh seperti itu, kamu tidak pantas berbicara seperti itu kepada ibu kamu. Hargai dia! Segeralah minta maaf, Elin anak ayah bukanlah seorang pendendam dan seorang pembenci.” Jelas ayah
“Elin, aku minta maaf jika selama ini aku sudah merebut kasih sayang yang seharusnya menjadi hak kamu, tapi sungguh aku tidak pernah bermaksud.” Ucap Risti
“ibu minta jangan benci ibu nak.” Ucap ibu
“aku mohon El, maafkan mamah, aku berharap kita bisa menjadi saudara, aku ikhlas jika aku harus berbagi ibu dengan kamu, apalagi kamu malah yang anak kandungnya.” Ucap Risti
“apa kamu tidak mendengar ucapan Risti nak, dia saudara kamu.” Ucap ayah
“aku minta maaf  buk, Elin sudah tidak sopan sama ibu, aku juga minta maaf karena terlalu banyak menuntut ibu.” Ucapku bersujud didepan ibu
“iya nak ibu juga minta maaf.” Ucap ibu
            Sejak kejadian itu ibu selalu mengajakku berbincang dan bermain bersama, om Dermawan pun juga dengan senang hati menerimaku juga sebagai anakknya, dan Risti pun semakin sayang denganku. Ibu pun sering menyuruhku untuk tinggal bersamanya namun dengan jawaban pasti aku menolaknya, walaupun sebenarnya ayah juga mengizinkan aku. Namun, aku sudah berjanji dengan diriku aku akan selalu ikut ayah dan menemaninya sampai ajal memisahkan, karena aku sangat sayang kepadanya dan untungnya ibu juga memaklumi keputusanku ini. Dan semenjak itu pula aku bisa merasakan begitu indahnya hidup ini walau memang benar bahwa hidup itu memang membutuhkan uang.
~SELESAI~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar